Penyihir Dosa Mematikan v2c8

Posted in Mahou Gakuen

Arc 2 Festival Seni Bela Diri

Kenangan ~Musée Albert~

sumur di ladang: kakuyomu

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


Di satu tempat, ada seorang gadis.

Mungkin agak aneh untuk memanggilnya gadis, tetapi dalam hal penampilannya, dia bisa dikatakan sebagai seorang gadis.



Dia memiliki rambut merah muda terang, sosok mungil, wajah cantik, dan dua taring tajam.

Telinganya yang runcing, meski tidak setajam telinga para elf, membuktikan bahwa dia bukan manusia.



Gadis semacam itu sedang dalam perjalanan.

Dia dijuluki sebagai pemberani, tetapi baginya, kehormatan, status, dan kekayaan tidak penting. Dia telah meninggalkan kerajaan tempat dia tinggal selama bertahun-tahun dan melakukan perjalanan ke banyak negara selama beberapa dekade.



Dan kemudian dia berakhir di negara tempat dia pernah tinggal.

Pada akhirnya, dia tidak menemukan apa yang dia cari────



"Ini dan itu tidaklah bagus.......apakah kiranya lebih baik jikalau diriku bertemu sahaja dengan sang pahlawan dan memintanya untuk membunuh diriku?"



Gadis itu bergumam dengan nada lawas yang jauh dari penampilannya.

Wajahnya menunjukkan rasa pasrah, dan sikapnya yang paling membuang.



"Tiga ratus tahun telah berlalu, ya....... waktu sungguh-sungguh berlalu────terlalu lambat untuk diriku."



Tiga ratus tahun telah berlalu sejak gadis itu pertama kali datang ke dunia.

Usia tertua dari elf berumur panjang adalah 356 tahun. Gadis itu akan memecahkan rekor itu hanya dalam beberapa tahun lagi. Apakah catatan itu siap untuk diperbarui atau tidak, itu tidak penting, karena dia bukan elf.



"Astaga, diriku sungguh-sungguh kerepotan, ibunda tersayang...... karena memberi diriku ini raga semacam ini......"



Gadis itu tertawa lemah dan tiba-tiba menciptakan tombak yang tak terhitung jumlahnya dari ketiadaan.

Kemudian, dia menusukkan tombak────ke dalam jantungnya sendiri.



"Ahak......!"



Gadis itu mengeluarkan banyak darah dari dada ramping dan mulutnya.



Setiap makhluk hidup dari spesies apa pun ditakdirkan untuk mati jika jantungnya tertembus, yang merupakan organ vital.

Di dunia, utusan Dewi yang dikenal sebagai sang suci, adalah satu-satunya yang bisa menyembuhkan luka seperti itu.



Tapi────gadis ini berbeda.



"Apahal...... sudahlah sembuh, dasar bodoh......"



Lubang di tubuh gadis itu dengan cepat tertutup dan disembuhkan saat dia mengeluarkan tombaknya.

Jantungnya pulih seolah-olah tidak ada yang terjadi, meninggalkan lubang di pakaiannya.



Tanpa memiliki arah atau tujuan, dia tiba di sebuah hutan terpencil di tepi Kerajaan Lapis Lazuli.

Di sana, gadis itu menangis diam-diam────




♦♦♦




Musée Albert adalah seorang vampir.

Ras, yang berperingkat tinggi di antara iblis, hidup di kegelapan malam dan menghisap darah orang lain untuk mempertahankan kehidupan abadi dan awet muda.

Semakin banyak darah yang mereka hisap, semakin lama mereka hidup dan semakin kuat sihir vampir unik mereka.



Bagi manusia, mereka adalah lawan yang merepotkan.

Di malam yang gelap, vampir menjadi abadi, dan sihir unik mereka beragam dan serbaguna, dan mereka dapat menggunakan berbagai taktik────untuk menyedot darah dan manghancurkan hidupmu.



Namun, vampir tidak sepenuhnya abadi.



Mereka yang tinggal di malam yang gelap rentan terhadap sinar matahari, dan ketika terkena sinar matahari, darah dalam tubuh mereka mendidih dan akhirnya musnah menjadi abu. Mereka juga lemah terhadap sihir suci yang dimiliki oleh para pendeta dan melemah jika mereka tidak secara teratur meminum darah.

Oleh karena itu, jika mereka tidak dibawa ke matahari dan mengkonsumsi darah, mereka menjadi lemah sampai pada titik di mana mereka tidak lebih baik dari iblis rendahan.



Namun tidak demikian halnya dengan Musée Albert.

Konsep kematian dan kelemahan tidak ada untuk Musée.



Ini karena Musée adalah hybrid────Separuh vampir.

Dia adalah seorang gadis yang mewarisi sifat "keabadian" dan sihir unik dari ayah vampirnya, tetapi tidak mewarisi kelemahan vampir.

Dia tidak perlu menghisap darah dan bisa berjalan-jalan di siang hari sesuka hati.




Itulah mengapa gadis bernama Musée Albert ini────benar-benar abadi.

Dia mengkhianati iblis dan membawa dirinya ke negara yang dihuni oleh manusia, tempat dia tinggal selama bertahun-tahun.



Tiap masa dan negara.

Apa yang dicari makhluk abadi itu adalah────kematiannya sendiri.



Bahkan pada saat ini, ketika matahari bersinar melalui pepohonan mencapai kulitnya, Musée hanya berjalan di antah berantah, mencari kematiannya.



Entah itu mencabik-cabik dagingnya, membakar seluruh tubuhnya, mematahkan lehernya, atau menenggelamkannya di laut.

......Musée tidak bisa mati.



Karena itu, dia terus berjalan.

Ekspresinya menunjukkan kepasrahan, tapi dia masih percaya pada sedikit harapan dan────



"Sialan......! Semuanya seenaknya mengolok-olokku!"

"......Hmm?"



Pada saat itu, dia tiba-tiba mendengar suara dari dekat.

Suara itu masih terdengar muda──── mungkin suara seorang bocah laki-laki.



Musée dengan santai menuju ke tempat suara itu berasal.

Dia menyusuri rerumputan dan akhirnya tiba di sumber suara itu...... dan disanalah dia, seperti yang diduga, seorang bocah laki-laki.



"Bukan mauku aku terlahir tanpa mana...... tapi...... sialan!"



Air mata mengalir di wajahnya saat dia membanting tinjunya ke tanah berulang kali.

Matanya mencerminkan frustrasi dan...... keinginan kuat.



"......Apahal yang dirimu lakukan di tempat seperti ini?"

"!?"



Musée memanggil bocah itu. Kemudian bocah laki-laki itu segera menoleh ke arahnya dan membuat wajah terkejut.



"Janganlah terkejut semacam itu. Diriku tidaklah mencoba menyerangmu────"

"Apa kau juga mau mengolok-olokku?"

"......Hmm?"



Sebuah lompatan tiba-tiba dalam percakapan.

Bagian mana dari pernyataan Musée yang dimaksudkan untuk mengolok-oloknya?

Mau tak mau Musée penasaran.



Tapi kemarahan bocah itu masih tak sirna.



"Hanya karena aku tidak punya mana! Hanya karena aku tidak bisa pakai sihir! ......Sehebat itu, hah! Sehebat itu bisa pakai sihir? Aku juga menginginkan kekuatan untuk bisa melindungi seseorang...... dan tidak diolok-olok! Aku juga────"



Dan.




"Aku lahir dengan tubuh ini bukan karena aku ingin!"

"......"



Teriakan penuh kesedihan dari bocah laki-laki itu.

Perkataan itu membuat Musée berpikir apa?



(Aku lahir dengan tubuh ini bukan karena aku ingin...... ya?)



Dia benar-benar mengerti rasa sakitnya.


Perasaan itu.
kesedihan itu.
Arti dari kata-kata itu.


Dia merasakan────betapa sakitnya.



Itulah mengapa Musée melangkah maju.

Dia mendekati bocah laki-laki itu dengan air mata mengalir di wajahnya dan menggigit bibirnya.



"Hei dirimu?"



Dia membuatnya mendongak dan menatap lurus ke matanya yang basah.



"Dirimu mendambakankan daya, bukan? Daya yang tiada akan membiarkan siapa saja pun mengalahkan dirimu, daya yang tidak akan membiarkan siapa saja pun mempermainkan dirimu────"



"...... Mm."

"Kalaulah begitu diriku akan mengabulkan harapan dari dirimu. Diriku akan menjadikan dirimu sebagai────murid dari diriku."



Apakah kata-kata itu iseng belaka? Atau karena dia berempati dengan kata-kata bocah laki-laki itu?



Hanya Musée yang tahu pasti.

Tapi────




Musée tidak tahu pada saat itu bahwa bocah laki-laki ini pada akhirnya akan menjadi orang yang mengabulkan keinginannya.


Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


NOTE:

Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~

Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer

Previous Post Next Post
No Comment
Add Comment
comment url
Discussion
Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel
Takada Kuota - Takada Kuota - Takada Kuota
By: Mbah Du-chan