Cintanya Jauh Lebih Berat Dari Siapapun Bab 8
sumur di ladang: semi nge-raw (kakuyomu)
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
[Bab 8/10]
"Ya. Ini buatmu, Kazuki-kun. Makan yang banyak ya."
Istriku bangun pagi lagi hari ini dan memberikan kotak makan siang untukku dengan senyum lebar di wajahnya.
Untukku, seorang pria tanpa pekerjaan tetap yang menghabiskan hari-harinya bermalas-malasan di rumah.
Kupikir aku perlu berubah, tetapi dia sepertinya tidak pernah membiarkan itu. Aku sudah mencoba mengatakan kepadanya beberapa kali kalau aku ingin bekerja juga.
[Aku seneng kamu mikirin aku, tapi kamu bakal narik wanita aneh.]
[Eeh...... Kenapa? Udah jelas kan? Soalnya kamu paling keren sedunia.]
[Kamu ngga perlu berubah. Kamu cukup tinggal di rumah aja selamanya.]
[Kamu ngga perlu ngelakuin apa-apa lagi. Kamu cuma perlu mikirin aku aja.]
[Aku bakal kasih semua yang kamu mau. Hei, apa yang kamu pengenin? Bilang sama aku.]
[......K, kamu pengen pergi ke luar? Ngomong apa sih? Ngga boleh, sama sekali ngga boleh. Kamu ngga boleh pergi ke luar kecuali bareng sama aku. Ada banyak bahaya di luar tau.]
Jika kebetulan, aku lapar dan pergi ke minimarket terdekat,
[Kazuki-kun, kenapa kamu keluar dari rumah?]
[Fufufu, Kenapa aku tahu? Soalnya wajah kamu gampang banget dibaca.]
[Semuanya keliatan. Jangan remehin aku lho.]
[Hei, apa kamu benci sama aku? Apa kamu sekarang......benci sama aku?]
[Aku bakal berusaha lebih dan lebih buat kamu. Jadi jangan kemana-mana.]
[Aku bakal lakuin yang terbaik lebih dan lebih keras. Aku bakal lakuin yang terbaik.]
Saat aku mengatakan kepadanya kalau aku tidak akan kemana-mana.
Istri tercintaku menunjukkan senyum sumringah.
[Hayyuk mandi bareng? Aku bakal bersihin kotorannya.]
[Eeh...... Tapi, aku udah masuk lho? Apa ada masalah. Kamu bau banget babi betina kotor. Aku mesti mendisinfeksi pake alkohol untuk ngilanginnya.]
[Apa mendingan——didisinfeksi pake cara perebusan ya? Kazuki-kun.]
Saat aku bertanya lebih lanjut kepadanya tentang hal itu, dia mengatakan kepadaku kalau seorang pegawai wanita di minimarket telah mencoba merayuku.
Aku tidak berpikir ada hal itu sama sekali.
Dari sudut pandang luar, kau mungkin berpikir kalau aku adalah seorang suami yang dicocok hidungnya oleh istrinya.
Pembatasannya lebih ketat daripada orang lain, atau bahkan beberapa kali lebih.
Tapi itu karena dia hanya cemas.
Itu karena cintanya begitu berat padaku, sehingga dia begitu memikirkanku.
"Iih~! Kenapa harus udah senin sih."
Istriku, yang telah selesai membuat makan siang untuk dua prosi makan dan dengan cepat berganti pakaiannya menjadi setelan gelap, mengeluh dengan kecemberutan di bibirnya.
"Kalo aja bisa terus-terusan Minggu...... kita bisa ngabisin sepanjang waktu bareng."
Yuna menuju ke pintu depan dan memeriksa penampilannya di depan cermin.
Dia tampak manis dengan piyamanya saat dia pertama kali bangun, tetapi saat ini, penampilan wanita karirnya yang terlihat seperti wanita dewasa, juga lumayan.
Postur tinggi dengan lengan dan kaki semampai, yang membuatnya terlihat sangat menarik.
"Maaf...... Yuna. Aku ngga cukup baik buatmu......"
"Ngga ada yang baik kalo ngerasa rendah diri, lho."
“Tapi tetep aja......A, aku......"
"Kazuki-kun, tugasmu cukup buat nunggu aku pulang, itu aja udah cukup buat aku."
Yuna memakai sepatu hak tingginya sambil menggumamkan kalau dia harus segera pergi.
"Hubungi aku kalo kamu butuh sesuatu, oke? Kapan aja aku ada."
Dia membelikanku ponsel baru untuk menggantikan yang rusak.
Tampaknya ini menggunakan mode anak-anak, jadi semua fungsi dasar dinonaktifkan.
Kegunaan utama ponsel ini mungkin hanya untuk menghubungi Yuna saja.
"Kalo kamu perlu sesuatu, telepon aku aja. Aku masih bisa dapet bayaran, terus aku bisa balik pas istirahat makan siang. Kamu ngga perlu khawatir soal aku!!"
Dengan lambaian tangan dan senyum ceria, dia meninggalkan rumah.
Dia berbalik beberapa kali untuk memeriksa wajahku.
Dia sungguh pencemas.
Biasanya, dia khawatir tentang aku yang tinggal di rumah sendirian dan melihat kembali ke saya lagi dan lagi.
Tapi hari ini, ada sesuatu yang terasa tidak benar. dan sebagai buktinya,
"Aku punya firasat ngga enak...... aku ngerasa kalo sesuatu yang buruk bakal kejadian."
Begitu dia naik kedalam lift, dia kembali lagi.
"Aku bakal di rumah aja hari ini. Aku ngerasa kalo ada pengganggu yang bakalan dateng kemari."
Dengan wajah cemas. Seolah-olah di ambang keadaan darurat.
"Ngga apa-apa. Aku ngga bakal pernah ninggalin rumah. Jadi jangan khawatir."
"Oke...... kalo Kazuki bilang gitu...... Ah, gitu ya!?"
Yuna menepuk tangannya, seolah-olah sebuah ide telah muncul di benaknya. Meski alisnya merengut.
"Hari ini, Aku belum dapet ciuman selamat jalan. Sekarang kan hari genap, jadi ciumannya dari Satou-kun. Ayo dong, cepetan, aku udah ngga sabar nih."
Apa-apaan itu, pikirku, sambil mencium wanitaku tercinta.
Setelah selesai, dia memegang bibirnya dengan matanya yang terpesona dan bilang padaku dengan mulut bebek kalau itu tidak cukup, tetapi aku tidak boleh memanjakannya. Lagipula, sudah waktunya untuk pergi bekerja.
Mengelabuhinya, wanita yang aku percayai dia adalah Shirakawa Yuna, melangkah berangkat uantuk bekerja dengan campuran lompatan kecil. Melalui jalan-jalan di mana bunga sakura bermekaran dengan indahnya.
Tapi aku tahu kenyataan itu.
Tidak, bukan itu.
Kenangan yang ingin kulupakan, kebenaran itu, kembali kedalam ingatanku.
Apa yang membawanya kembali adalah kunjungan mendadak ke rumahku.
"Harusnya ibu nelpon aku dong kalo mau dateng?"
"Kenapa? Apa ngga boleh kalo ibumu berkunjung?"
Ibuku telah mencoba menghubungiku, tetapi tidak bisa menghubungiku.
Yuna merusak ponselku, jadi tidak ada cara untuk menghubungiku.
"Eh? Ada apa nih, ada apa. Semuanya udah rapi!"
Aku menyuruh pulang, tetapi ibu tidak menganggapiku serius, dan malah masuk ke kamar.
Ia melihat sekeliling seolah-olah sedang memeriksa kamar putranya.
Kemudian berdiri di depan rak.
Di sanalah aku menyimpan buku tabungan, kunci, dan semua benda penting lainnya.
Mungkin ibu adalah orang seperti itu...... mengincar uangku......?
Pikirku, tetapi apa yang dia cari benar-benar berbeda.
Itu adalah botol transparan yang ditemukan saat bersih-bersih dengan Yuna.
"I, Ibu......?"
Saat aku memanggil, ekspresi misterius ibu dengan cepat berubah.
Ia kembali ke dirinya yang biasanya, ibu yang cerewet dan tomboy.
"Ada bau seorang gadis. Apa kamu akhirnya dapet pacar baru?"
"Sebenernya, aku udah menikah."
"ApaaAAAH? Kenapa kamu ngga ngabari ibu berita penting itu——"
Ibu sangat kesal. Dia bilang aku harus berkonsultasi dengan mereka. Menanyai kapan pernikahan akan diadakan, dll.
"Fiuh. Ibu pikir jantung ibu bakal copot. Tapi selamat ya, Kazuki."
Pipi ibuku merileks dan ia terlihat sangat bahagia.
Kukira dia hanya senang mengetahui putranya sudah menikah. Yah, tentu saja.
Aku telah menjalani kehidupan tanpa adanya kisah cinta sejak aku masih mahasiswa.
"Terus dimana pasanganmu? Siapa Namanya?"
"Shirakawa Yuna, kami teman sekelas di SMA, ibu juga——"
Mulutku berhenti berbicara.
Ekspresi bahagia di wajah ibu hilang, lalu berubah pucat.
Ibu menatapku seolah-olah sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dipercaya.
Aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi sepertinya aku telah mengatakan sesuatu yang keterlaluan.
Tiba-tiba, ibu mulai menangis. Aku tidak yakin mengapa.
Satu-satunya hal yang bisa kupahami adalah dia merasa kasihan padaku.
"Kazuki...... Yuna-chan udah meninggal......."
“Hah......? I,ibu ngomong apa sih. Yuna lagi kerja sekarang."
Ibu mencengkram bahuku sekuat yang dia bisa. Sakit.
Tanpa menyeka wajah menangis sama sekali.
"Kazuki...... Sadar. Yuna-chan...... Dia udah ngga sama kita lagi!!"
"Yuna udah ga ada??"
Rasa pusing yang intensif.
Rasa sakit itu bergema di kepalaku.
Tanpa sadar, aku berjongkok di tempat.
"Itu tepat sepuluh tahun yang lalu sekarang. Saat itu pas liburan musim semi, sebelum Kazuki dan Yuna jadi mahasiswa. Yuna-chan mengalami kecelakaan mobil——."
"Ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga ngga."
Seperti anak manja, aku menutup telinga dan memblokir kata-kata ibu.
Saya ingin percaya kalau itu bohong. Aku ingin itu hanya kebohongan belaka.
Walaupun demikian.
Aku menutup telingaku dan memblokir kata-kata itu.
Seolah-olah di suatu tempat di relung hatiku, aku tahu itu adalah kenyataan.
"Ngga. Aku udah nikah sama Yuna. Kita hidup bareng.”
Benar. Shirakawa Yuna dan aku sudah menikah dan hidup bahagia.
Aku baru saja mengantar Yuna pergi bekerja. Aku bahkan menciumnya. Aku merasakan sentuhannya.
Apa itu maksudnya kalau semua kenyataan ini hanyalah ilusi saja? Tidak mungkin.
Semua ini...... Apa hanya halusinasiku saja? Tidak mungkin.
Benar-benar mustahil. Hal semacam itu sama sekali tidak mungkin.
"Terus, apa itu!? Jawab apa yang ada di dalam sana!”
Seolah memarahiku, dengan air mata mengalir di sudut matanya, ibu menunjuk ke rak.
Ke arah botol transparan. dengan bubuk putih di dalamnya.
Aku tidak tahu apa itu, tetapi aku punya firasat kalau itu adalah sesuatu yang sangat penting.
Saat aku berjuang untuk mencari tahu apa identitas dari benda itu, ibuku menghadapkanku dengan kenyataan yang tragis.
"Jawabannya...... itu abu jenazah Yuna-chan."
Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
NOTE:
uwoooh
Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~
Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer