Aktris Dewani - 7 (Cerita Tambahan)

Ekstra 2 – Menyemangati teman masa kecil yang depresi (mengandung banyak gula)

 

 

 

[Ini adalah cerita tentang waktu tepat setelah aku dan Sara mengutarakan perasaan kami satu sama lain.]

 

Bahkan sebelum ia mulai berkencan denganku, Sara telah menerima pujian tinggi sebagai “Aktris Dewani”, meski begitu bahkan dia pun memiliki keberadaan yang bisa disebut sebagai musuh alami.

 

――Miyamoto Shinkuro, seorang sutradara.

 

Dia adalah salah satu sutradara masyhur dan terkemuka Jepang, dan juga penerima penghargaan Tatanan Kebajikan Kebudayaan, dan merupakan salah satu nama terbesar di industri ini.

Seingatku, aku mendengar bahwa sebuah pesta diadakan tahun lalu untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-60, jadi dia sudah cukup tua.

 

Sara telah dipilih untuk memainkan peran utama dalam drama yang disutradarai oleh sutradara terkenal ini, dan ia saat ini sedang berlatih.

Ia biasanya memutuskan hari ia akan datang ke rumahku terlebih dahulu, tetapi hari ini ia tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan.

 

“Sara…… Kamu ngga apa-apa?”

“……Aku engga lagi ngga papa.”

 

Menanggapi pertanyaanku, Sara bergumam pada dirinya sendiri.

Aku makan malam dengan keluargaku, dan sekarang aku menghabiskan waktu sendirian dengannya di kamarku.

 

“Kenapa kamu engga kemari dibanding mojok dipojokan kaya gitu?”

 

Aku memanggil Sara, yang meringkuk di lantai di sudut ruangan.

Aku duduk di tempat tidur dan menepuk tempat di sebelahku, mengundangnya untuk duduk denganku.

Tapi, Sara hanya melirikku dan tak bergeming.

 

Menurut apa yang ia ceritakan padaku, sutradara drama hari ini telah mengkritik penampilannya untuk latihan panggung hari ini sampai ke akar.

Itu hanya pendapatku, tetapi aku pikir sangat sulit untuk mendapatkan pujian yang tinggi dari semua orang karena tiap orang punya preferensi mereka sendiri ketia itu berhubungan dengan seni.

Dan dari apa yang kudengar sejauh ini, mau tak mau aku berpikir kalau Sara tidak benar-benar cocok dengan sutradara ini.

 

Tapi, menurut Sara, alasan terpilihnya ia dalam drama itu karena sutradara tersebut sendiri yang memintanya.

Jujur, aku tidak paham kenapa.

Jika beliau itu tidak suka aktingnya, beliau seharusnya tak memilihnya. Dan apalagi sebagai karakter utama?

 

Kudengar kalau Sara juga menerima pemilihan dirinya itu, mengatakan kalau ia tidak bisa melarikan diri karena ia ditawari pekerjaan itu.

Itu adalah dunia yang aku, yang mana orang biasa, tidak bisa paham.

Dan tepat di depanku adalah kekasihku yang berharga yang terluka di dunia yang tidak bisa kupahami itu.

 

“Ayo dong, Sara. Sini dong.”

 

Aku berjalan ke arah teman masa kecil dan kekasihku, yang sedang mojok di sudut ruangan, menciptakan suasana keruh, lalu mengulurkan tanganku padanya.

Sara mendongak dari tempat ia jongkok di sudut, tetapi dengan segera memalingkan wajahnya.

Wah, cukup serius hari ini kayaknya.

Ia biasanya datang padaku saat kupanggil, tetapi hari ini ia benar-benar enggan untuk mendatangiku.

 

“Kamu udah lakuin yang terbaik, Sara. Jangan khawatir, jalan masih panjang.”

 

Aku berjalan ke sisinya, mengelus kepalanya dan membisakkan kata itu di telinganya.

 

“Beneran?”

“Ya, Sara masih SMA. kamu masih punya jalan panjang, masih banyak yang mesti dipelajari saat itu. Jadi, semangat dong. Ayo bekerja keras, sedikit demi sedikit, bareng.”

 

Aku menyemangatinya sambil terus mengelus kepalanya.

Perasaan rambut halusnya setelah mandi sangat menenangkan.

Aroma samponya menggelitik ringan hidungku. Aku penasaran kenapa baunya sangat harum padahal ia pakai sampo yang sama denganku.

Ini adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia bagiku.

 

“Shin-chan mau bantuin aku?”

“Ya, kita bakal terus bareng. Kita bakal lakuin yang terbaik bareng-bareng.”

“Ya, kita bareng-bareng!”

 

Seolah pintu surga akhirnya terbuka, Sara mengangkat kepalanya dan memelukku.

 

“Sini dong, ayo bobok bareng.”

“Ayo!”

 

 

 

 

Menurut Sara, jika dia tidak mengisi kembali “Daya” dariku, ia bakalan mengalami defisiensi.

kalau itu tak terlalu serius, ia bisa mengisinya kembali dengan pelukan ringan, jadi kami tidur terpisah.

Tapi saat itu serius, kami tidur bersama seselimut.

Biasanya, Sara akan tertidur begitu aku memeluknya, mencium pipinya atau ketika aku membelai kepalanya, tapi hari ini sepertinya itu begitu serius dan itu tidak cukup.

 

“Cium aku, cium aku.”

 

Di tempat tidur, Sara memelukku dan berbisik di telingaku.

 

“Mau gimana lagi kalo gitu……”

 

Mungkin karena cintaku padanya, tapi aku punya titik lemah untuknya.

Aku mengecup ringan pipinya.

 

“Engga, engga disitu! Cium sih, tapi engga disitu~”

 

Sara memprotesku dengan memelukku lebih erat.

Aku memalingkan wajahku ke arahnya, dan bahkan di ruangan yang remang-remang aku bisa melihat wajahnya dengan samar.

 

“Cepet~ cepetan dong~”

 

Siapa sih ini anak? Suara yang berbeda, manis, dan merdu itu membuatku ingin mengatakan itu.

Aku tidak tahu dari mana ia mendapatkan suara seperti itu, tetapi itu adalah sisi baru dari Sara yang aku pelajari sejak kami mulai berkencan.

 

“Engga cukup, mmm……”

 

Aku mendiamkan Sara yang berisik dengan membungkam bibirnya dengan bibirku.

 

“Chu, chuu, chuu, mmm……”

 

Aku menciumnya tidak sekali, tidak juga dua kali, tapi tiga kali.

Kami berciuman lagi, lagi, dan lagi, semakin intim, dan kemudian bibir kami berpisah tanpa kami sadari.

 

“Fwah~, ciuman, ciuman rasanya enak banget…. Lagi, boleh aku minta cium lagi?”

 

Saat aktris hebat di zaman ini meminta lagi, aku tidak bisa tidak membalas.

 

“Mmm, chuu, chuu, mmm!”

 

Suara teredam keluar dari mulut Sara.

Ia tampak terkejut karena aku menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya.

Aku memasukkan lidahku ke dalam mulut Sara dan menyusuri tuk menemukan lidahnya, tapi sulit untuk menemukannya. Sepertinya dia telah menarik lidahnya kembali ke mulutnya.

Aku menggerakkan lidahku semakin jauh ke dalam mulutnya, dan akhirnya menemukan lidahnya indahnya.

 

――tsun, tsun.

 

Aku menyodok lidah Sara yang menyusut malu-malu beberapa kali, dan lidahnya perlahan-lahan menjulur sedikit ragu padaku.

Kemudian lidah Sara mulai melakukan kontak dengan lidahku.

Satu-satunya suara di ruangan remang itu adalah suara ludah dan napas kasar saat kami melahap bibir dan lidah satu-sama lain dengan rakusnya.

 

“Haah, ini kelewat enak, aku pusing banget, aku bakal jadi gila.”

 

Tubuhnya benar-benar rileks, dan lengannya lemah saat dia memelukku.

 

“Kamu gadis yang baik, Sara. Tidur yang nyenyak ya.”

 

Dengan lembut aku mengelus kepala Sara tampak setengah sadar.

 

“Ehehehe”

 

Saat dia mengeluarkan suara bahagia, dia meremas lenganku dan memelukku erat-erat, wajahnya menempel di wajahku.

Beberapa menit kemudian, aku bisa mendengar suara napas teraturnya di sebelahku.

 

“Selamat malam, Sara.”

 

Aku berbisik di telinga Sara, dan aku langsung tertidur.

 

 

 

 

 

――Hari berikutnya.

 

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh~~~~~~~~~”

 

Aku terbangun karena teriakan kekasihku yang tidur di sebelahku.

 

“Shin-chan, itu, kemarin, kamu ingat itu kan….. kejadian kemarin, kan?”

“Tentu aja.”

 

Aku tak mabuk atau setengah sadar.

Pertama-tama, mustahil untuk melupakan wajah cantik kekasih berhargaku.

Aku telah menyimpannya dengan kuat di HDD otakku.

 

“Uuu, malu-maluin banget~~ a, aku bakal mati gara-gara malu~~ Uuuu~ bunuh aku, bunuh aku aja!”

 

Rupanya, kekasih tercintaku memiliki beberapa pemikiran tentang apa yang kami katakan dan lakukan tadi malam.

Selain itu, dia tampaknya telah memainkan peran seorang ksatria wanita.

Mengesampingkan candaan, ia selalu meringkuk ke pelukanku, tidur di selimut yang sama denganku, dan sejujurnya aku tidak bisa mengerti apa berbedanya yang tadi malam.

 

Namun, tampaknya itu sesuatu yang sama sekali berbeda baginya.

Meski kami adalah teman masa kecil, bukan berarti kami memiliki perasaan dan penilaian yang sama dari satu hingga sepuluh.

 

Kami akan hidup bersama sebagai kekasih, dan jika kami menikah di masa depan, kami akan menjadi suami istri, sebuah keluarga, jadi kami ingin saling memahami sedikit demi sedikit.

Aku menyaksikan dengan hangat saat teman masa kecil tercintaku yang meringkuk dalam penderitaan batinnya.

 

 

 

 

Kebetulan, saat sutradara tersebut pensiun beberapa tahun kemudian, aku terkejut dia menjawab “Aktris Fujishima Sara” saat ditanyai siapa yang beliau pikir adalah aktor terbaik sepanjang masa.

Tampaknya, beliau berusaha mengasuh dan mengasah Sara sebagai pekerjaan besar terakhirnya.

Aku pikir beliau cukup ketat demi alasan itu, tapi aku rasa itu adalah norma pada masa itu.

Mungkin karena inilah Sara kemudian mencapai puncak karirnya sebagai aktris, tapi itu cerita untuk lain waktu.

[Bersambung]

 

(TLN: Englishnya belum dilanjut.)

Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~

Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer

Previous Post Next Post
No Comment
Add Comment
comment url
Discussion
Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel
Takada Kuota - Takada Kuota - Takada Kuota
By: Mbah Du-chan