KnO Chapter 21 – Pengakuan

Chapter 21 – Pengakuan

pantawed by: ASW

* * * * *
“........” 

“........” 

........C, canggung. Sudah sekitar 30 menit sejak Helen-san datang ke kamarku, namun suasananya sangat canggung katena baik Helen-san maupun aku tidak berbicara sepatah katapun. 

Bagaimanapun, haruskah aku berbicara disini? Tapi, Helen-san datang ke kamarku karena ada yang ingin dia bicarakan bukan? Haruskah aku menunggu lebih lama? Berpikir demikian 

“M-Maafkan aku, datang selarut ini.” 

Helen-san mulai berbicara. Suasananya masih agak canggung, tapi mari mulai berbicara dengan pikiran yang teguh. 

“Tidak, tidak apa-apa. Jadi, apa ada Helen-san? Selarut malam ini?” 

“Hanya, aku hanya ingin bicara dengan Redius.” 

“Bicara denganku?” 

Aku senang! Aku tak ingin pergi tanpa mengucapkan apa-apa. Tampaknya tidak ada kesan aku dibenci Helen-san saat ini. Kalau begitu, ada apa dengan suasana yang kurasakan sampai hari ini? 

Tapi, aku tak punya waktu untuk khawatir tentang hal-hal itu, Helen-san dan aku larut dalam pembicaraan ini. 

Tentang pertemuan kami untuk pertama kalinya. Marah tentang pedang kenangan ibuku yang dirampas. Lalu hal-hal menyedihkanku. Aku berlatih dibawah bimingan Mistrea-san. Tentangnya yang frustasi karena aku bisa belajar semua aliran pedang. Namun, aku tetap berlatih keras, belajar aliran pedang satu demi satu dan menubah pikiranku. Kami berbicara banyak hal dan sebagainya. 

“Tentang itu, aku minta maaf. Aku tidak memikirkan perasaan Helen-san dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.” 

Waktu itu, kupikir itu sangat buruk. Mengatakan akan menguasai semua aliran pedang didepan Mistrea-san dan Helen-san yang mencintai pedang! 

Bagi keduanya yang mencintai pedang pasti akan marah. Mistrea-san membimbingku dengan serius, Helen-san membantuku sambil mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa cukup berterima kasih pada mereka. 

“Benar juga, saat itu aku merasa kesal. Tetapi setelah melihat Redius yang bekerja keras selama tiga tahun terakhir, jadi sekarang aku tak memikirkannya lagi.” 

helen-san tersenyum padaku saat mengatakan itu. I-imutnya. Ini gawat! 

.......ngomong-ngomong kami sedang duduk di tempat tidur di kamarku saat ini. Ada aroma yang harum dari Helen-san....... 

“Redius?” 

Ups, gawat ini berbahaya. Ketika aku memikirkan hal-hal aneh, Helen-san melihat dengan curiga. 

“Tidak, bukan apa-apa.” 

Dan saat aku membuat alasan, Helen-san menggembungkan pipinya dan mendekat menatap wajahku. Te-terlalu dekat! 

“.......mencurigakan” 

“S-sungguh, bukan apa-apa.” 

Aku agak menjauh dari Helen-san. Jika tetap seperti itu, aku tak akan bertahan. Ketika aku memikirkan hal itu, Helen-san menggembungkan pipinya lebih dari sebelumnya dan mendekatiku. Ke-kenapa dia sangat marah? 

“B-b-ba-bagaimana kabarmu, Helen-san?” 

wajah marah dengan pipi gembung itu juga lucu, tapi aku lebih suka kalau dia tersenyum. Dan saat aku bertanya.. 

“...kenapa kamu menghindar?” 

“Eh?” 

“jadi, kenapa kamu menghindar saat aku mendekat!” 

Dia marah.... apa itu, apakah dia marah karena itu? Ketika aku berpikir begitu, tanpa sadar aku tertawa. Lalu Helen-san, A-apa? Menyandarkan kepalanya dengan lembut. 

Agak malu untuk bicara jujur apa adanya, tapi kupikir dia akan marah jika aku tidak bicra. Itu memalukan. 

“Maafkan aku. Karena Helen-san sangat imut. Katika begitu dekat, aku tak bisa bertahan, jadi aku menjauh.” 

Saat aku berkata jujur, Helen-san menatapku dengan wajah tak percaya, dan setelah beberapa saat, wajahnya berubah menjadi merah memahami apa yang kukatakan. Wajahku juga memerah. 

“I-i-i-i-imu-imut! Apakah aku ini imut.” 

“Te-tenang sedikit Helen-san.....” 

“Kya~!” 

Halan-san mulai tidak tenang, jadi aku meraih tangannya untuk menenangkannya. 

Akan tetapi, Helen-san juga seorang swordwoman yang belajar dari Mistrea-san. Dia lebih kuat dari yang kukira, meski aku meraih tangannya, dengan momentum itu, aku kehilangan posisiku. 

......Aku menutupi diatas Helen-san. 

“.......” 

“.......” 

Ga-ga-ga-gawat! Gawat gawat gawat gawat! Ini gawat! Saat aku mencoba menyingkir dari atas Helen-san, lengaku dipegang Helen-san. 

“Helen san!? Ini sedikit.......... Helen-san?” 

Tolong lepskan Helen-san! Saat aku menatap wajah Helen-san untuk mengatakan itu, Dian menatapku dengan mata penuh tekad. Aku menatap mata Helen-san seolah aku terhisap. 

“...Aku punya sesuatu yang benar-benar ingin aku katakan pada Redius.” 

“K-kamu, ingin mengatakan, sesuatu padaku?” 

Gawat, tenggorokanku menjadi kering dan hanya suara serak yang terdengar. Jantungku berdegup kencang, mungkin akan meledak karena ketegangan ini. Namun, aku tidak bisa mengalihkan mataku dari Helen-san. Dari orang yang kusukai. 

“Aku telah memperhatikan Redius selama tiga tahun terakhir. Redius telah berlatih dengan keras. Awalnya sebagai murid, aku berpikir kamu adalah saudara seperguruan setelah sekitar satu tahun. Tapi ketika aku menyadarinya, aku telah melihat Redius sebagai seorang Pria!” 

“He, len-san” 

“Aku terkejut mendengar kamu akan pergi dari sini dua hati yang lalu, tapi berkat itu aku menyadari kalau aku menyukai Redius!” 

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena hal semacam itu belum pernah ditunjukkan sama sekali sampai sekarang. 

“Sebelum kamu pergi dari sini, aku ingin memberi tahumu! Aku mencintai Redi.... Nmmm!” 

Namun, aku tak bisa menahannya lagi. Itu bukan sesuatu yang harus dikatakan Helen-san. Aku harus memberi tahunya. Dan ketika aku menyadarinya aku mencium Helen-san. 

“Re-di-us?” 

Helen-san menatapku dengan matanya yang basah, aku merasa malu. Kupikir kata-kata itu sangat indah. Dan aku tak mengatakan apapun. 

“Helen-san, aku juga mencintaimu. Sejujurnya, aku tidak menyadari perasaan ini sampai saat ini. Namun, selama dua hari terakhir, dihindari Helen-san, hatiku sakit dan sedih ketika aku pikir Helan-san membenciku. Saat perpikir begitu, aku sadar kalau aku menyukai Helen-san. Aku akan mengatakannya lagi. Helen-san, aku benar-benar mencintai Helen-san!” 

A-aku mengataknnya. Aku telah mengatakan itu! Jantungku akan meledak. 

Saat aku berpikir begitu sambil melihat wajah Helen-san, dia tersenyum sambil menitikkan air mata. 

“He, Helen-san?” 

menitikkan air mata dengan tiba-tiba, apa yang terjadi? Aku membuat suara yang aneh. Melihatku yang bingung, Helen-san tertawa. 

“Helen-san?” 

“Fufu, aku minta maaf. Melihat Redius yang sangat khawatir, tanpa sengaja aku tertawa. Jangan khawatir tentang air mata ini. Ini air mata bahagia.” 

Helen-san datang merangkul leherku, dan kali ini Helen-san yang menciumku. 

“Nn....Redi~ us” 

catatan pemantaw: [んっ……ちゅむ……あむ]“N ~tsu……chi ~yumu……amu” embuh ora ngerti.. :v 

Ini gawat. Mulut Helen-san, terasa manis dan nikmat. Suara manis Helen-san. Tubuhnya yang lembut. Aromanya yang sangat harum. Tubuhnya yang hangat itu. Semuanay mencairkan rantai pertahananku. Kalau begini, aku takkan bertahan. 

Aku menahan kedua bahu Helen-san untuk pergi sebelum aku tak mampu bertahan lagi. Helen-san menunjukkan ekspresi sedih tentang hal itu. Aku diserang rasa bersalah yang luar biasa, tapi aku harus bertahan disini, 

“Ji, jika terus seperti ini, aku benar-benar tidak akan bertahan. Jadi hari ini disini........” 

aku mengatakan itu dan mencoba pergi tapi Helen-san mengulurkan tangannya merangkul leherku lagi. 

Tapi kali ini dia tidak menciumku tapi memelukku. Nafas Helen-san terdengar di telingaku. Aku merasakan perasaan lembut di dadaku, dan Helen-san telah mengatakan sesuatu yang harusnya tidak dikatakan. 

“Jika itu Redius itu tak apa. Akua akan memberimu waktu pertamaku.” 

Pada saat itu, semua rantaiku telah rusak. Dalam sekejap, aku tak bisa lagi berhenti. Kali ini aku akan mencium Helen-san. 

Kali berciuman, aku melepas pakaianku dan pakaian Helen-san. Aku minta maaf kalau itu sedikit kasar. Bagaimanapun aku perjaka dan tidak memiliki pengalaman. 

Penampilan Helen-san telanjang seperti baru lahir sangat cantik. Rambut birunya yang biasanya diikat dibelakang, sekarang tersebar di tempat tidur. 

Kulit indah yang tak terbakar sama sekali, meskipun dimandikan matahari setiap hari dalam pelatihan. Payudara berbentuk mangkuk yang tidak berubah bentuk bahkan saat dia berbaring. Pinggang yang ramping, pantat yang montok dan cantik. Kaki yang memiliki otot yang lentur. Semuanya cantik dan indah bak karya seni. 

“Ja, ja, jangan melihatnya terlalu banyak. Itu, itu memalukan.....” 

Melihat Helen-san seperti itu, aku menatapnya dengan wajahku yang juga memerah. “bagian bawah”ku sudah begitu luar biasa. Belum pernah seperti ini sebelumnya. 

Aku tidak ingat banyak dari itu. Tidak, aku mengingatnya, namun aku merasa seperti sedang bermimpi. Aku cukup putus asa. Aku hanya ingat dimana dengan jelas. 

Hari terakhirku di rumah ini. Tentang aku dan Helen-san menjadi satu. 

catatan pemantaw: ( ͡° ͜ʖ ͡°) 

* * * * * 

karena nge-RAW dari jepun dibantu GTL harap maklum.. 

*wik wik wikwik wik wik wikwikwik wik wik



Prev | Next

Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~

Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer

Previous Post Next Post
1 Comments
  • Payy
    Payy 28 October, 2019 20:53

    Thanks for the chapter~!!

Add Comment
comment url
Discussion
Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel
Takada Kuota - Takada Kuota - Takada Kuota
By: Mbah Du-chan