Aku Sanggup Bernafas Kerana Engkau Disini - 15

Perasaanku padanya meluap-luap

sumber: ShanTLs

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Aku tersapu dalam arus emosi yang keruh.

——Aku tak sanggup bernapas.
Rasanya menyakitkan.
 
Jika terus begini, mungkin akan benar-benar buruk. Biasanya, napasku akan tenang seiring waktu, tetapi kali ini rasanya lebih parah dari biasanya.

Selain itu, penglihatanku tertutup kegelapan, namun wajah orang-orang itu terus berkerlip-kerlip muncul dan hilang. Selain wajah-wajah itu, aku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa melihat ekspresi Fuyu-kun.

Sakit. Aku tak bisa melihat apa-apa, Fuyu-kun.

Aku memanggilnya.

"...S——,....Sakit.....Sakit sekali, Kamikawa-kun, Kamika——...wa-kun. Ka.....Fuyu-kun———"

Aku mengulurkan tanganku, berusaha meraihnya. Aku hampir tak bisa melihatnya sama sekali. "Kata-kata itu" semakin mengekangku dan menolak membebaskanku, membuat napasku semakin menyakitkan.
(Jika ini terus berlanjut, mungkin napasku mungkin akan berhenti.) Pada saat aku berpikir demikian——

"Shimokawa-san, kuatkan dirimu! Tarik napas perlahan———Shimokawa, Shimokawa!"

Aku samar-samar mendengar suara Fuyu-kun. Aku mencoba mencarinya dalam kesadaranku yang kabur. Di mana? Di mana kamu, Fuyu-kun? Aku mencarinya secara naluriah. Aku mengulurkan tanganku dengan kuat, dan kali ini, aku mendengar suaranya dengan jelas.

"———Yuki!"

Aku merasakan kehangatan yang menenangkan di telapak tanganku. Aku merasakan dia meraihku. Rasanya seperti aku dikelilingi olehnya, berpelukan dengannya. Dia memelukku, tetapi tidak ada ruang untuk merasa malu pada saat itu.

Namun Fuyu-kun khawatir padaku——Melihat wajahnya yang cemas, aku mulai merasa lega.
Dalam momen ini, aku adalah hal terpenting bagi Fuyu-kun. Saat aku menyadarinya, kecemasanku hilang——Aku merasa puas.



■■■



Aku tak ingat bagaimana kami sampai di taman.

Saat aku sepenuhnya sadar kembali, aku sudah duduk di bangku taman, bersandar pada Fuyu-kun. Tanganku ada dalam genggamannya.
Cara dia sangat khawatir padaku membuatku merasa sakit.

"Begini, emm...Shimokawa-san, aku benar-benar min——"

Rasanya salah jika Fuyu-kun meminta maaf padaku. Akulah yang memutuskan untuk bertindak begitu nekat. Aku terlalu terfokus pada bu Yayoi. Hanya dengan memikirkan tentang itu kembali, aku merasa sangat malu, membuat tubuhku panas. Maksudku, Fuyu-kun telah melakukan begitu banyak hal dengan orang lain yang tidak aku ketahui. Itu membuatku merasa——bahkan masih merasa——frustrasi.
Dan karena putus asa—Aku membiarkan emosiku mengambil alih dan mengucapkan sesuatu tanpa berpikir.

"Namaku——"
"Haah?"

Fuyu-kun menunjukkan wajah bingung dan mencoba menanyakan apa maksud dari ucapanku.
(Aduh. Tapi sudah terlambat untuk berhenti sekarang.)

"Barusan, saat kamu memanggilku dengan namaku, aku sangat senang, tahu. Kalau kamu menganggapku sebagai temanmu, Kamikawa-kun, bisakah kamu memanggilku dengan namaku, bukan nama keluargaku?"
".....Eeeh?"

Fuyu-kun menunjukkan ekspresi yang jelas bingung. Tapi aku tidak bisa mundur sekarang. Keserakahan dalam diriku memberitahuku untuk lebih dekat dengan Fuyu-kun. Memanggilnya "Fuyu-kun" dalam pikiranku saja sudah tidak cukup lagi untukku.

"Namaku. Kalau kamu benar-benar sungguhan menganggapku sebagai teman, aku ingin kamu memanggilku dengan namaku."

(Kenapa aku jadi seorang pemaksa begini? Apa yang harus kulakukan kalau dia membenciku?)
Aku menundukkan wajahku. Aku menyadarinya terlalu terlambat. Dia hanya datang membantuku karena bu Yayoi menyuruhnya. Itu semacam rasa kasihan. Tak ada alasan baginya untuk bersusah payah seperti ini demi aku.

"———Yuki."

Aku mengangkat wajahku. Fuyu-kun memanggilku sambil tersenyum. Tak ada tanda penolakan. Hanya penerimaan terhadapku yang tak pernah berubah.
Aku bisa merasakan diriku kembali tenggelam dalam emosi.

(Itu tidak baik. Aku tak ingin menjadi gadis lemah. Aku tak ingin Fuyu-kun khawatir padaku.)

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum padanya.

"Terima kasih, Fuyu-kun!"

(Apa aku sedang tersenyum?)
Aku melihat Fuyu-kun yang tersenyum, terlihat lebih bahagia daripada aku sendiri——Dan tiba-tiba, aku menginginkan sesuatu yang lain.

Meskipun aku sudah begitu egois, aku ingin lebih. Rasanya tak tahu malu. Tapi Fuyu-kun telah menggenggam tanganku dan menerimaku. Dia telah membantuku kembali bernapas dengan normal.
Jadi aku memberanikan diri dan memutuskan untuk mengatakan apa yang aku inginkan. Jantungku berdetak cepat, dan aku merasa begitu malu.

"Fuyu-kun, bolehkah aku minta satu hal lagi?"
"Hmm? Kalau itu sesuatu yang bisa kulakukan, tentu boleh."
"Kalau begitu, pinjamkan aku tanganmu——"

Wajahku terasa panas. Aku bahkan tak bisa menatap matanya. Aku merasa sangat malu sehingga ingin segera melarikan diri.
Tapi, jika aku melarikan diri sekarang, tidak ada yang akan berubah. Dan, lebih dari segalanya, aku telah menyadari. Dalam waktu singkat ini, aku telah merasakannya berkali-kali——

——Aku butuh Fuyu-kun.

"Tanganmu. Setiap kali kita berjalan keluar, bolehkah aku menggenggam tanganmu? Uh... Emm... setiap kali aku memegang tanganmu, napasku jadi lebih ringan, jadi, emm...kamu mungkin berpikir aku aneh, tapi...kalau boleh——"

Saat aku mengatakannya, pikiranku menjadi kacau, dan rasanya logika dari perkataanku hilang. Tapi itu benar. Jarak yang sangat dekat ini, begitu dekat hingga aku bisa merasakan kehangatannya... Kehadirannya yang menenangkan di sampingku... Mungkin karena Fuyu-kun ada di sini aku sanggup untuk tetap tenang dan bernapas dengan benar.

Dan, tanpa mengucapkan balasan, Fuyu-kun menyentuh tanganku.

Tanpa ragu.
Aku melihat wajahnya.

Fuyu-kun tersenyum.
Jantungku, yang tadi berdebar kencang, perlahan mulai tenang. Napasku juga sudah stabil, bahkan aku pun terkejut.

Aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
Rasanya seperti hanya ada kami berdua di dunia yang luas ini. Aku akhirnya bisa merasakan darahku mengalir normal kembali. Beredar ke sekujur tubuhku, mengembalikan suhu tubuhku seperti semula.

".....Terima kasih."
"Sama-sama."

Aku nyaris tak bisa menggerakkan mulutku dan memberitahunya. Dan, saat aku melakukannya, dia sepenuhnya menerimaku. Aku merasa sangat bahagia. Di dalam diriku, aku bisa merasakan Fuyu-kun menjadi lebih besar, menjadi sosok yang semakin penting bagiku.



■■■



Aku menarik napasku dalam-dalam lagi. Sepertinya aku baik-baik saja. Sekali lagi, aku merasakan betapa pentingnya Fuyu-kun bagiku.

"......Terima kasih, Fuyu-kun. Sekarang aku mungkin sudah baik-baik saja. Aku bisa bernapas dengan sangat baik-baik saja. Tapi itu hanya berkat tanganmu. Aku hanya baik-baik saja karena kita berpegangan tangan, jadi bisakah kita tetap berpegangan tangan saat pulang juga?" tanyaku padanya.

"Uh, emm, tentu. Shimoka——"

Aku menatap Fuyu-kun langsung.

(Aku ingin kamu memanggilku dengan namaku.)

"——Yuki, kalau kamu baik-baik saja dengan itu, tentu saja tidak masalah."

Fuyu-kun tampak cukup tersipu malu. Dia telah menerimaku, dan sekarang dia bahkan memahami apa yang aku coba katakan. Fuyu-kun benar-benar luar biasa.

"Ah, benar. Kamu punya waktu sebentar?" Tanya Fuyu-kun padaku, seolah-olah dia mencoba menyembunyikan rasa malunya. Tapi dia masih menggenggam tanganku. Rasanya seperti aku sedang dikawal olehnya.

Dari sakunya, Fuyu-kun mengeluarkan sebuah kantong kecil yang dibungkus dengan kertas kado yang lucu.
Aku berkedip, terkejut. Pikiranku tidak bisa mengikuti.

Dia mengambil kantong kecil itu dan meletakkannya di tanganku.

"Eh?"
"Yah, kamu sudah menyuguhiku makanan yang enak, jadi aku merasa semua yang kulakukan hanyalah menerima sesuatu darimu Shim——Yuki. Aku ingin memberimu sesuatu. Aku berkonsultasi dengan Kaizaki soal ini, tapi aku dimarahi karena memilih sesuatu yang terlalu mahal. Jadi ini yang dipilih———"
"Oleh Kaizaki-kun?"

Aku terkejut mendengar nama teman masa kecilku disebutkan. Aku benar-benar ingin kembali ke sekolah. Karena, di tempat yang tidak aku ketahui, Fuyu-kun semakin dekat dengan orang lain, dan aku takut akan hal itu.

"Dia membantu saja, tapi, akulah yang memutuskan untuk memilih ini. Kalau ada, aku merasa tidak enak karena terlalu murah, tapi aku tidak bisa memikirkan yang lain."

Mendengar kata-kata Fuyu-kun, aku merasa lega—Aku merasa sangat senang, begitu senang hingga aku ingin berputar-putar dalam kegembiraan. Fuyu-kun menghabiskan banyak waktu memikirkan sesuatu untuk diberikan padaku. Lebih dari itu, pada akhirnya, dialah yang membuat keputusan akhir tentang apa yang akan diberikan padaku. Aku merasa sangat bahagia.

"Fuyu-kun, bisakah kamu membukanya untukku?"

Aku tak akan pernah melepaskan tangannya. Tentu saja, sebagian alasannya adalah karena napasku. Tapi, yang lebih penting, aku tidak ingin terpisah dari Fuyu-kun, bahkan untuk sesaat.
Fuyu-kun tersenyum kecut dan mulai membuka kantong itu. Yang muncul dari bungkus itu adalah gantungan ponsel dengan gambar kucing putih. Selain itu, ini adalah karakter yang aku sukai, yang sering aku gunakan di LINK.

"Ini...."
"Yah, karena akhir-akhir ini kita sering berkomunikasi. Aku pikir ini bisa menjadi jimat keberuntungan. Aku bahkan berdoa pada Lulu, berharap kambuh yang kamu alami tidak terlalu parah."

(Aku ingin memeluk Fuyu-kun sekarang)——Entah bagaimana aku berhasil menahan dorongan itu.

(Aku begitu bahagia, begitu bahagia. Jika aku hilang kendali diri sebentar saja, aku takkan bisa mengendalikan emosiku lagi, dan aku akan mulai menangis bahagia. Tapi aku tahu, kalau aku menangis, Fuyu-kun akan khawatir padaku, jadi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menahan emosiku.)

Fuyu-kun memasang gantungan itu di casing ponselku.
Aku merasakan gantungan itu dengan jari-jariku.
Aku bisa merasakan lebih banyak dari Fuyu-kun, jadi aku merasa sangat bahagia.
(Aku akan merawatnya. Aku pasti akan menjaganya dengan baik—)
Itulah yang aku bisikkan dalam hatiku.

"Tapi, kamu tahu? Kamu memaksakan diri sedikit terlalu keras hari ini. Kita bisa melakukan rehabilitasimu perlahan, sedikit demi sedikit. Mengingat apa yang kamu alami hari ini, kamu mungkin sudah mengalami banyak tekanan."
"Ya."

Aku mengangguk patuh. Aku telah membuat Fuyu-kun khawatir padaku. Aku merasa bersalah tentang itu, sungguh, tapi tahukah kamu, Fuyu-kun?

"Tapi tidak apa-apa. Karena kamu akan ada untukku, kan, Fuyu-kun?"
"Yah, aku akan melakukan sebisaku."
"Itu sudah lebih dari cukup. Saat kamu di sini, Fuyu-kun, rasanya aku sanggup bernapas dengan baik."

Langsung ke intinya. Dan itu benar. Itulah yang benar-benar aku rasakan. Ketika Fuyu-kun bersamaku, rasanya lebih mudah untuk bernapas.
Dan, alih-alih membalas kata-kataku dengan kata-kata, Fuyu-kun meremas tanganku. Aku bisa merasakan kehadirannya semakin nyata.

Maaf, Fuyu-kun. Tapi juga, terima kasih.
Aku sanggup bernapas karena kamu ada di sini.

Aku ingin memberitahunya itu lagi dan lagi.



■■■



Aku duduk termenung di tempat tidur, menatap gantungan ponsel. Aku sudah melakukan ini sejak aku pulang.

Merasakan keberadaan Fuyu-kun lebih dan lebih dekat membuatku merasa bahagia. Aku tahu dia bekerja paruh waktu hari ini, jadi aku mencoba menahan diri untuk tidak mengiriminya pesan di LINK, meskipun aku sangat ingin mengucapkan "Terima kasih" berulang kali.

Fuyu-kun perlahan-lahan mulai menjadi bagian yang semakin besar dalam hidupku. Dan di atas itu, aku juga menyadari kalau aku semakin menjadi lebih egois.
—Tiba-tiba, aku mendapat notifikasi pesan di LINK.

"Eh?"

Melihat sesuatu yang tak terduga, aku terkejut. Itu adalah pesan dari Fuyu-kun——



Fuyu Aku akan berangkat ke pekerjaan paruh waktuku sekarang. Sepertinya aku membuatmu terlalu lelah hari ini. Aku benar-benar minta maaf. Tolong istirahatlah dengan baik.

Tapi menurutku kamu luar biasa. Kamu benar-benar berusaha sebaik mungkin untuk melangkah maju. Meski begitu, jangan memaksakan diri terlalu keras, oke?




Aku tiba-tiba menyadari kalau dengan tanpa sadar aku sudah memeluk ponselku.
(Alasan aku bisa menantang maju, alasan aku ingin melangkah maju——Semua itu berkat kamu.)

Aku cepat-cepat mengetik balasan untuk pesannya. Mengetuk-ketuk layar ponselku, aku mencoba menahan diri agar tidak salah mengetik dengan jantungku yang saat ini berdetak lebih cepat.
 
Aku tidak ingin dia tahu betapa gugupnya aku atau seberapa cepat detak jantungku. Aku bahkan tidak tahu apa ini——Bohong. Itu bohong. Sebenarnya, aku tahu betul apa perasaan ini.
Namun, untuk saat ini, aku cukup dengan hanya menjadi teman.
Aku mencoba menahan keserakahan, keegoisan "diriku".



Yuki Terima kasih banyak untuk hari ini. Aku baik-baik saja. Tapi, aku tidak ingin membuatmu khawatir, jadi aku akan berusaha untuk tidak terlalu memaksakan diri.

Juga, kalau kamu berpikir aku luar biasa karena bisa melangkah maju, itu semua berkatmu, Fuyu-kun. Yang semangat di pekerjaan paruh waktumu, ya! Jangan terlalu memaksakan dirimu juga. Sampai jumpa besok. Aku menunggumu.




Itulah pesan balasan dariku. Aku menerima stiker bergambar anjing dengan tulisan 'OK.' Sebagai balasan, aku mengirimkan stiker kucing putih dengan kata-kata 'Semangat!'. Pesanku berubah menjadi "terbaca", tetapi percakapan berhenti di situ.
Fuyu-kun perlu bersiap-siap untuk berangkat ke pekerjaan paruh waktunya, jadi aku sadar kalau dia tidak akan bisa memeriksa pesanku sepanjang hari.
Meskipun begitu, aku merasakan kehangatan muncul di dalam lubuk hatiku. Aku memeluk gantungan ponsel itu, mencoba memastikan kalau itu masih ada di sana.
——Dan tiba-tiba, aku mendengar langkah kaki cepat dan berisik menaiki tangga. Yah meski dia memang mengetuk pintunya. Aku tersenyum kecil sebelum mengatakan, "Masuk."

Pintu kamarku terbuka.
Yang muncul disana adalah adik laki-lakiku, Sora, yang menunjukkan senyum besar yang polos. Mengatakan dia polos terdengar positif. Namun, tahun ini dia baru masuk SMP, dan masih sulit untuk percaya kalau dia benar-benar sudah menjadi anak SMP dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.

"Heh? Kak, gantungan yang lucu. Kakak dapat dari pacarmu, ya?"

Dia menjatuhkan sebuah bom pernyataan begitu saja dari antah berantah. Menyadari kata-katanya itu, aku bisa merasakan wajahku memanas dan memerah karena malu.

"Hei, Sora, jangan mengusiliku seperti itu. Aku dan Fuyu-kun tidak seperti itu, tahu."

Mendengar kata-kataku, senyum jahil perlahan muncul di wajah Sora.

"'Fuyu-kun', ya. Bukannya kemarin kakak memanggilnya 'Kamikawa-kun'?"
"I-itu tidak penting bagaimana aku memanggilnya, oke! Maksudku, kami itu- kami cuma teman!"
"Maksud kakak, untuk sekarang, kan?"
"Bukan! Kami hanya teman!"

Melihat reaksiku yang panik, Sora tersenyum puas. Aku menggembungkan pipiku dan merajuk dengan protes.

"Yah, itu bukan hal utama yang mau aku tanyakan. Apa kakak bisa makan malam lagi malam ini? Mama tadi tanya di grup keluarga di LINK, lho."
"Serius?"

Benar-benar ada pesan, jadi aku buru-buru membalas.

"Dari kondisi kakak sekarang, sepertinya kakak bisa makan, kan? Suasana kakak belakangan ini juga jauh lebih baik."

Sora tersenyum lebar——Lalu dia menambahkan sesuatu lagi.

"Semua ini berkat Fuyu-kun, ya."

Aku bisa merasakan wajahku memanas lagi. Wajahku mungkin sudah benar-benar merah sekarang.

"Sora, berhenti menjahiliku—"
"Tapi kakak begitu bahagia sampai-sampai kelihatan jelas di wajahmu, tahu?"

Sora keluar dari kamar dengan senyum lebar.

"Dasar, Soraaaaa!"

Aku mencoba melempar bantal ke arahnya, tapi pintunya sudah tertutup. Aku tak pernah menyangka hari di mana aku dijahili adikku akan datang. 'Masih panas', pikirku, saat aku merasakan pipiku dan melihat ponsel yang tergeletak di pangkuanku.

——"Kakak begitu bahagia sampai-sampai kelihatan jelas di wajahmu, tahu?"

Aku tak bisa menyangkalnya karena dia benar.
Hari-hari bersama Fuyu-kun di sisiku adalah sesuatu yang membuatku sangat bahagia, dan tak ada yang bisa menggantikan itu.

(Aku ingin tahu lebih banyak tentang Fuyu-kun. Aku ingin lebih dekat dengannya.)
Dan aku pun perlahan menjadi semakin egois.  
Berusaha menahan perasaan yang tak terkendali ini, aku menggenggam erat gantungan ponsel yang diberikan Fuyu-kun padaku.

(Aku merasa emosiku akan meluap. Aku tidak yakin sanggup menahannya lagi sekarang)

Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


NOTE:

Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~

Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer

Previous Post Next Post
No Comment
Add Comment
comment url
Discussion
Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel
Takada Kuota - Takada Kuota - Takada Kuota
By: Mbah Du-chan