Aku Sanggup Bernafas Kerana Engkau Disini - 10
Si Kucing Memberi Nasehat pada Rekannya
sumur di ladang: ShanTL
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Dari dalam kegelapan dan di sudut area parkir sepeda, aku berbaring meringkuk.
Sebentar lagi pasti dia pulang.
Aku sebenarnya tidak berpikir kau perlu mengikuti aturan dengan begitu ketat. Selain itu, teman sekamarku sedikit tidak dapat diandalkan, jadi aku tidak bisa benar-benar membiarkannya sendiri. Aku rasa bisa dibilang aku memainkan peran sebagai walinya.
Tap, tap, tap.
Suara langkah-langkah ini——
Dia pasti sedang pulang. Hmm? Sepertinya dia sedang bersenandung. Aku rasa dia dalam suasana hati yang baik hari ini.
Akhir-akhir ini, sepertinya satu-satunya yang dia pikirkan adalah Nona Shimokawa Yuki——meskipun, yah, mungkin hari ini juga tidak berubah.
“Aku pulang, Lulu.”
Sambil menahan menguap, dia mengatakan ini kepada teman sekamarnya.
Aku pun membalas sapaan itu.
“Oaaa—,” aku mengeong.
Teman sekamarnya yang dia lihat saat menguap dengan lesu di depannya, adalah aku, kucing putihnya.
■■■
Jika aku harus menggambarkan Kamikawa Fuyuki, aku rasa aku akan menggambarkannya sebagai orang yang kikuk. Ini mungkin aneh untukku untuk mengatakanya sebagai kucing, tetapi dia tidak terlalu mudah bergaul, jadi dia sering disalahpahami. Atau setidaknya itu yang aku pikirkan. Fakta bahwa dia belum memiliki satu pun teman sejak dia mulai SMA hingga sekarang adalah buktinya. Yah, sebagai teman sekamar, jelas bahwa dia telah berusaha, dan dia juga memiliki keadaan tersendiri, tapi, meskipun begitu, teman sekamarku ini cukup buruk dalam bergaul.
Saat pertama kali aku bertemu dengannya, dia hampir menyerah pada hidupnya——Maksudnya, dia berada dalam situasi dia hampir melakukan bunuh diri.
Bukan seperti satu orang yang mengakhiri hidupnya akan membuat perbedaan bagi dunia ini, tetapi jika aku tidak terlibat sama sekali, pasti aku akan merasa bersalah.
Selain itu, dia bersedia memberiku kamar untuk tinggal dan makanan untuk dimakan.
Memang, manusia sepertinya berpikir bahwa kami kucing adalah makhluk yang mudah berubah dan memutuskan segala sesuatu semaunya, tetapi itu tidak sepenuhnya benar. Dari sudut pandang kami, kami hanya berpikir bahwa “Manusia itu merepotkan.” Meskipun begitu, kami tidak menggeneralisir semua orang dalam satu kategori itu dan kami tahu tidak semua orang seperti itu.
Hmm, aku mengerti.
Aku membuka salah satu mataku dan melihat ke arah teman sekamarku. Seperti yang aku duga, Fuyuki sangat ceria hari ini.
Dia bahkan menambahkan makanan kemasan ke dalam makanan kucing yang biasanya aku terima.
“Ada apa dengan wajah itu?”
Fuyuki tersenyum kecut. Sambil tersenyum begitu, dia mulai perlahan menceritakan apa yang terjadi hari ini. Ini adalah salah satu rutinitas hariannya. Dia memberi penjelasan sederhana tentang apa yang terjadi hari ini. Meskipun aku hanya memberikan reaksi samar, dia sudah puas.
Hanya saja, selama 2 hari terakhir, penjelasannya cukup padat dan rumit, bahkan dari sudut pandangnya sendiri.
Dan 90 persen dari apa yang dia bicarakan adalah tentang Nona Yuki.
Aku tetap diam dan mendengarkan.
“Itu bagus, bukan,” pikirku. Dia memiliki kecenderungan buruk untuk bertindak menahan diri dan membuang pikiran-pikiran. Sekarang dia sedang makan malam, tapi dia juga cenderung bertindak seperti itu dalam hal makanan. Di tempat kerja paruh waktunya, dia sering ditawari makan malam, tetapi, setiap kali, dia menolak dengan mengatakan bahwa dia merasa tidak enak.
Kecenderungan ini mengakibatkan jarak antara dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.
“Yah, aku bilang ke Shimokawa kalau aku akan makan dengan benar, jadi, aku rasa——” ucapnya canggung, sedikit malu.
Kebanyakan waktu, dia pulang dalam keadaan lelah dan akhirnya memilih mie instan cup, onigiri dari minimarket, atau roti manis. Pola makannya sangat tidak seimbang. Dia tidak banyak mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri, tetapi dia mengeluarkan banyak untukku.
Sebenarnya, tidak peduli makanan kucing apa yang dia beli, semuanya tidak benar-benar enak, jadi aku lebih suka makanan kucing yang sama, karena setidaknya rasanya konsisten. Kalau ada, aku akan sangat senang jika dia memberiku sashimi sebagai gantinya.
Aku pikir bagus kalau kau mencoba menjaga kesehatanku, tapi, uh, aku juga mencari makan di luar, kau tahu? Kekhawatiranmu hampir tidak berguna, oke? Aku merespon dengan menggoyangkan ekorku.
“Lihat, aku tahu kau suka sashimi, tapi aku tetap ingin kau tetap sehat, oke?”
Kadang-kadang, kami bisa saling memahami perasaan satu sama lain tanpa kata-kata.
Dia memanggilku "rekan"-nya.
Pada awalnya, aku pikir dia orang yang agak aneh. Maksudku, daripada peduli pada kucing, bukankah dia seharusnya mencoba untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya dan mendapatkan pasangan? Itu yang aku rasakan. Yah——, memikirkan kepribadian teman sekamarku, aku sangat menyadari kalau itu mungkin hal yang mustahil.
“Tapi,” pikirku.
“Pertemuan dengan Nona Shimokawa Yuki sepertinya memberikan dampak yang cukup baik pada rekanku.”
Aku menyipitkan mata dan mendengarkan kata-katanya.
■■■
Begitu. Ada banyak hal yang ingin aku ejek, tetapi, karena dia berhasil bertukar ID LINK, aku akan memberinya nilai pas.
Namun, sepertinya teman sekamarku khawatir tentang sesuatu.
Ada apa?
“Emm, aku disuguhi kek chiffon, jadi aku ingin memberinya hadiah——atau semacamnya. Kalau ada, aku ingin memberinya jimat keberuntungan atau sesuatu yang bisa membantunya.”
Itu sikap yang baik——Adalah apa yang aku pikirkan sampai aku melihat layar ponselnya, dan rahangku hampir jatuh.
Semacam batu permata. Itu ide yang bagus.
Sebuah kalung yang mirip dengan kucing. Itu juga bagus, karena katanya dia suka kucing. Meskipun begitu, aku tidak yakin apakah rekanku ini menyadari hal ini, tetapi sulit untuk percaya kalau dia benar-benar tertarik pada percakapan hanya karena dia suka kucing.
——Dia pasti hanya ingin lebih dekat denganmu. Atau setidaknya itulah yang kupikirkan.
Bagaimanapun, semuanya baik-baik saja. Fuyuki berusaha keras memikirkan sesuatu dengan caranya, meski canggung. Aku juga mengerti itu. TAPI melihat ke kalung yang harganya SERATUS RIBU yen sangat kelewatan!
SI TOLOL INI!
“Apa ini cukup, ya?”
Maksudku, setidaknya di permukaan, kalian berdua mulai sebagai teman, kan? Tidak mungkin aku akan membiarkan pertemanan yang berujung memoroti seperti itu terjadi, oke?! Aku ingin sekali meneriakkan itu saat itu juga.
“Yah, aku punya tabungan yang cukup, jadi, soal uang, tidak ada masalah.”
Ditolak. Meletakkan telapak kaki depanku di tombol daya, aku menekannya dengan tegas, memaksa ponsel ke mode tidur.
“H— hoi! Bukannya itu keterlaluan?”
Memberi hadiah mahal secara tiba-tiba itu terlalu berat. Apa kau hanya mencoba bergegas memikatnya?
“Yah, aku pikir itu ide yang bagus, kau tahu.....”
Idemu terlalu ekstrim. Seharusnya kau memperlakukannya seperti memperlakukan teman masa kecilmu. Fakta bahwa kau terlalu sadar akan dirinya mungkin karena kau belum berkomunikasi dengan seseorang dengan baik selama lebih dari setahun.
Setidaknya, bukankah sebaiknya kau mencari tahu dan bertanya pada salah satu kenalan Nona Shimokawa Yuki terlebih dahulu?
“Mungkin aku harus bertanya pada Kaizaki.... Dia mungkin tahu apa yang disukai Shimokawa. Dia juga tampaknya terbiasa berinteraksi dengan gadis-gadis.”
Lakukan itu. Jika ada, itu yang seharusnya kau lakukan pertama.
Jika kau melakukannya——
“Hm? Ada apa, Lulu?”
Fuyuki melihatku dengan curiga. Aku memukul ponselnya dengan ekorku. Saat Fuyuki menunjukkan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia tidak memahami maksudku, ponsel itu menyala kembali.
Dengan menggunakan telapak kaki depanju, aku mengetuk aplikasi LINK.
Dan kemudian muncul gambar seorang gadis yang tidak kukenal.
Hmmmm——, aku mengalihkan pandanganku ke Fuyuki. Aku rasa gadis ini adalah Nona Yuki.
“Hmm, ada apa? Itu, eee....Shimokawa bilang dia ingin foto Lulu, jadi.... Aku pikir aku akan menunjukkan beberapa. Yang ini cukup bagus dan imut, jadi aku akhirnya mengirim yang ini kepadanya.”
Jadi maksudmu kau menggunakanku sebagai alat?
Kau berani juga, ya.
Yah..... Aku tidak akan membahas itu sekarang. Selain itu, apa yang diinginkan Nona Shimokawa adalah fotomu, bukan fotoku, kau tahu?
Yah, pada titik ini, aku sudah tidak peduli lagi.
Aku mengibas-ekorku, mendorong Fuyuki untuk melanjutkan.
“A— apa lagi?”
Kau, jangan bilang, kau puas hanya dengan bertukar ID LINK saja?
Sekarang kau sudah punya cara untuk berkomunikasi dengannya, jangan bilang kau tidak mengatakan apa-apa seharian, kan?
“Huh? Maksudmu chat apa yang kami kirimkan?”
Apa lagi selain itu, dasar bodoh.
“Tidak, tapi, yah... Mengirim chat saat itu... Kupikir aku akan menggangguny——Aww.”
Aku terlalu malas untuk mengurus omong kosong ini, jadi aku langsung menggigitnya. Kau tahu, sekarang ini, pelajar SMA akan mengirim chat di LINK tanpa peduli pukul berapa.
“Uh, kau, meskipun kau bilang begitu, aww, sakit. Kenapa kau menggigi——”
Kau laki-laki, jadi bersiaplah. Aku menggigit tangan Fuyuki dengan kejam. Karena dia masih belum melakukan apapun, aku menjilati tangannya dengan lidahku.
“Hentikan, hentikan, aww, sakit, sakit, Lulu, serius, hentikan——”
Kebanyakan orang mungkin tidak sadar, tapi lidah kucing cenderung kasar dan berbulu agar lebih mudah merawat diri. Saat kami hidup di alam liar, lidah kami juga berguna untuk makan daging mangsa kami. Ini adalah sifat yang dimiliki seluruh keluarga kucing.
“——Aku mengerti, aku bilang, aku mengerti!”
Seharusnya kau bilang dari awal. Akan jauh lebih mudah mengatasi lukamu.
■■■
Fuyuki Aku sudah pulang dari pekerjaan paruh waktuku dan makan malam dengan benar. Sampai jumpa besok. Selamat malam.
Balasan datang dengan cepat.
Yuki Aku lega. Aku akan berusaha sebaik mungkin besok juga.
Kadang-kadang aku tidak bisa tidur di malam hari. Aku sedikit cemas hari ini, tapi sejak aku mendapat chat LINK-mu, Kamikawa-kun, aku merasa lebih lega. Terima kasih.
Sebuah stiker muncul tak lama kemudian.
Itu adalah ilustrasi kucing putih yang malu-malu memegang tulisan “selamat malam.”
Jadi Shimokawa juga berpikir seperti itu——I, itu tidak mungkin, gumam Fuyuki.
Itu karena kau selalu melakukan hal-hal seperti ini, dasar kau sangat menyebalkan.
Fuyuki mengirim balasan stiker.
Itu adalah ilustrasi anjing mengantuk yang menguap dengan mata setengah terbuka sambil mengatakan selamat malam.
Sambil mengibas-ngibaskan ekorku, aku mengawasi rekanku.
ya ampun. Aku tidak percaya aku harus berusaha begitu keras hanya untuk membantu satu hal ini saja.
“Oaaa——”
Setelah harus melalui semua itu hari ini, aku yakin aku tidak akan membuat para dewa marah meski aku serakah meminta setumpuk ikan sarden kering.
“Ya, ya,” kata rekanku, membaca niatku dan meletakkan beberapa ikan sarden kering di telapak tangannya.
Ya, tidak ada yang mengalahkan nikmatnya makan ikan sarden kering setelah dipaksa sampai kelelahan mental.
“Oa——”
Ini sama sekali tidak cukup. Aku minta porsi kedua, rekanku.
Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
NOTE:
Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~
Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer