Aku Sanggup Bernafas Kerana Engkau Disini - 5

TLN: Gaya terjemahan mengalami sedikit perubahan (iyalah, udah 3 tahun mangkrak), jadi lebih standar.

Engkau tertarik dengan kucing

sumur di ladang: ShanTL

= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


“Apa tidak ada yang bisa saya ambil?” (Kamikawa)

Mendengar kata-kata tak terduga ini, Bu Yayoi yang berdiri di tengah ruang staf membeku.

“Ah, tentu saja tidak. Bukannya ibu selalu punya print tugas yang bisa kamu ambil, kan?” (Yayoi)
“Jadi saya rasa tidak ada alasan bagi saya untuk datang hari ini.” (Kamikawa)

Meskipun merasa lega, aku juga sedikit kecewa.

“Hmm~. Rasa tanggung jawabmu ternyata cukup lemah, Nak Kamikawa.” (Yayoi)

Entah kenapa, dia menatapku dengan dingin. Tapi tunggu sebentar, aku ini benar-benar sukarelawan di sini! Ini seharusnya pekerjaan seorang guru, jadi apa yang beliau katakan sangat tidak adil!

“Aaah….Meskipun orang tua Nak Shimokawa bilang ‘Tolong jaga putri kami?’, kamu benar-benar akan membuang tugas yang diberikan kepadamu begitu saja... Hmm... Ibu mengerti... Ibu mengerti.” (Yayoi)
“Tidak, cara anda mengatakannya terlalu berat. Dan bukankah ibu yang mengatakan akan membantu saya kemarin!” (Kamikawa)
“Fufu.” (Yayoi)

Bu Yayoi tersenyum.

“Maaf, maaf. Ibu terlalu senang nengusilimu, Nak Kamikawa. Tapi kamu benar-benar harus menunjukkan lebih banyak kepribadianmu di sekolah, tahu.” (Yayoi)
“Jika saya benar-benar mampu melakukan itu, semuanya akan jauh lebih mudah.” (Kamikawa)

Itulah yang benar-benar kurasakan. Aku sadar betul bahwa aku tidak cocok dengan siswa-siswi lain di kelas.

“Selain itu, memang benar ibu ingin kamu terlibat dengannya di luar urusan sekolah seperti print tugas. Orang tua nak Shimokawa juga merasa begitu. Mereka bilang ini adalah kesempatan yang tidak ingin mereka lewatkan.” (Yayoi)

“Tapi,” lanjut Bu Yayoi. “Kami tidak akan memaksamu melakukannya. Nak Kamikawa, terserah padamu apakah kamu ingin bertemu dengannya lagi atau tidak.” (Yayoi)


■■■


Bukankah cara beliau mengatakannya terlalu tidak adil?
Aku menghela napas kecil.

Jika aku harus mengatakan apakah aku tertarik atau tidak pada Shimokawa, aku pasti akan mengatakan bahwa aku tertarik. Dan, anehnya, aku tidak bisa menghapus senyuman Shimokawa dari pikiranku.

Ini karena Bu Yayoi menyuruhku melakukan ini.
Aku terus-menerus menggumamkan ini pada diriku sendiri, mencoba meyakinkan diriku bahwa itu memang alasan sebenarnya.

Ini karena orang tua Shimokawa memintaku melakukannya.
Aku terus menggumamkan ini.
Saat aku berpikir seperti itu, aku tiba di rumah Shimokawa.

“....” (Kamikawa)

Aku bertanya-tanya kamar mana yang milik Shimokawa? Aku berpikir sebentar sebelum tersadar. Bukankah itu sesuatu yang akan dipikirkan seorang penguntit?

Untuk saat ini, aku memutuskan untuk menghentikan daftar alasan-alasanku.

(Ini bukan karena mereka yang memintaku—)

Kata-kata yang telah kuatur sebagai alasan hanyalah alasan semata. Aku tertarik pada Shimokawa. Aku ingin bertukar kata dengannya lebih banyak dan ingin berbicara dengannya lebih sering.

Jadi, bukankah ini baik? Setidaknya itulah yang kupikirkan.
Ini mungkin terdengar konyol, tetapi aku ingin lebih dekat dan berteman dengan Shimokawa.
Memikirkan hal ini, aku mulai meraih interkom, tetapi, begitu aku melakukannya, pintu perlahan terbuka—–Shimokawa ada di sana, menatapku dengan malu-malu.

“Ah, um, halo? Terima kasih... untuk yang kemarin.” (Kamikawa)

Aku mengangkat tanganku dengan gemetaran. Jantungku berdegup kencang. Dan akulah di sini yang tidak bisa bernapas sekarang. Aku merasa seperti melihat Shimokawa memberikan senyuman kecil padaku.

“Aku senang kamu datang.” (Shimokawa)

Seperti kemarin, dia memberiku senyuman cerah yang penuh semangat.

“Silakan masuk.” (Shimokawa)
Dia menundukkan kepalanya dan membungkuk dengan cepat.


■■■


Di ruang makan tempat kami makan kemarin, ada teh hitam yang sepertinya diseduh oleh Shimokawa. Selain itu, ada juga kek chiffon.
Aku mencicipi sepotong, dan rasanya meleleh di mulutku. Tidak terlalu manis. Tapi seolah meresap lembut ke tubuhmu. Karena aku hidup sendirian, mendapati ada seseorang yang menyiapkan makanan untukku———meskipun ini hanya makanan penutup———sangat membuatku bahagia.

“Bagaimana rasanya?” tanya Shimokawa. Hari ini, dia mengenakan gaun biru laut, dan rambutnya diikat di belakang. Aku bisa melihat ekspresinya dengan jelas——dan mataku tak sanggup lepas dari wajahnya.

“Hah?” (Kamikawa)
“Emm, kek chifon itu, aku rasa agak sedikit gosong, tapi bagaimana rasanya?” (Shimokawa)
“I-, ini buatan rumah?” (Kamikawa)

Aku terkejut. Adonan lembutnya setara dengan toko spesialis kue. Bahkan mungkin rasanya lebih baik daripada penganan manis dari tempatku bekerja paruh waktu.

“Oh, apa... mungkin rasanya tidak enak? Maaf, aku minta ma——” (Shimokawa)

Ingin mengubah ekspresi murungnya, dengan segera aku meraih tangan Shimokawa——sebelum aku kemudian menjadi gugup dan dengan cepat melepaskannya.

“Ah, bukan, itu bukan maksudku, tidak, maksudku.... Emm, rasanya sangat enak. Aku hanya mengira ini dibuat oleh seorang profesional. Emm, aku hidup sendirian, jadi sudah lama sekali ada seseorang yang membuatkan sesuatu untukku. Jujur saja, sudah lama juga aku makan bersama orang lain, jadi kemarin adalah pertama kalinya sejak waktu lama. Itu sebabnya, emm, aku sangat senang. Maaf tentang kekacauan kemarin, tapi kue hari ini benar-benar lezat. Sangat lezat sampai aku tidak punya kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa enaknya. Begitu lezat. Beneran lezat!” (Kamikawa)

Aku bahkan tidak yakin apa yang aku katakan. Aku terus melontarkan kata-kata, mengulang kata-kata yang sama berulang-ulang. Rasanya setiap hal yang kukatakan menghilang begitu saja. Kepalaku kosong.
Shimokawa tampak bingung sejenak——Dan kemudian dia tersenyum.

“Aku senang. Terima kasih, Kamikawa-kun.” (Shimokawa)
“Ah, iya. Tunggu, aku yang seharusnya berterima kasih.” (Kamikawa)

Dengan menggunakan garpu, aku memotong sepotong chiffon cake dan membawanya ke mulutku. Akan sangat sayang jika menghabiskannya segera. Itulah yang kupikirkan dari hati.

“Maaf soal yang kemarin. Aku ikut campur tanpa perlu.” (Kamikawa)

Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan.

“Hah?” (Shimokawa)
“Tidak, aku telah menyajikan nasi omelet yang gagal kepada seseorang yang bisa membuat kue seperti ini, jadi——” (Kamikawa)
“Aku sama sekali tidak merasa begitu!” (Shimokawa)

Suara Shimokawa dipenuhi emosinya, dan dia mengambil napas dalam-dalam, tampaknya mencoba menenangkan dirinya. Aku rasa aku membuat kesalahan.
Aku terlalu menikmati kebaikannya. Kebaikan Shimokawa, yang mengalami hiperventilasi saat berada di depan orang lain. Baginya, hanya menghabiskan waktu bersamaku pasti menegangkan. Aku tidak tahu persis apa yang dia alami, tapi aku merasa seperti memanfaatkannya.

“Kemarin, aku rasa kamu berusaha sebaik mungkin untuk membuat sesuatu yang baik, Kamikawa-kun. Setidaknya, aku rasa rasanya enak. Dan aku pikir rasanya lebih enak ketika kita memakannya bersama. Selain itu, aku juga sangat senang kemarin.” (Shimokawa)
“...Begitu.” (Kamikawa)

Mendengar kata-kata jujur seperti itu, aku merasa sedikit malu, jadi aku mengalihkan pandangan.

“Tapi jika kamu merasa kesulitan, jangan memaksakan diri, oke? Aku sudah mendengar dari Bu Yayoi bagaimana kamu mulai mengalami hiperventilasi ketika keadaan sulit.” (Kamikawa)
“Baik.” (Shimokawa)

Dia mengangguk.

“Aku rasa aku masih baik-baik saja.” (Shimokawa)
“Baiklah.” (Kamikawa)

Aku mencoba teh hitam. Aroma teh hitamnya kuat, dan rasanya benar-benar enak. Setelah itu, kami berbincang-bincang tentang hal-hal yang konyol. Buku, film, anime, musik. Sebagian besar aku mendengarkan Shimokawa berbicara tentang minatnya. Waktu berlalu begitu cepat. Aku tidak bisa tidak memperhatikan betapa aktifnya Shimokawa berbicara ketika dia tenggelam dalam percakapan.
Sisi itu dari dirinya juga lucu. Itulah yang kupikirkan. Aku yakin suara batinku tidak bocor kali ini. Tiba-tiba, Shimokawa mencondongkan kepalanya, tampaknya memperhatikan sesuatu. Dia meraih seragamku.

“Ada apa?” (Kamikawa)
“Apa ini rambut kucing?” (Shimokawa)
“Ya... Aku memelihara kucing.” (Kamikawa)
“Kucing? Benarkah!?” (Shimokawa)

Dia menatapku dengan minat.

“Kamu suka kucing?” (Kamikawa)

Dia tampak semakin malu.

“Ya, ibuku punya alergi kucing, jadi kami tidak bisa memeliharanya...” (Shimokawa)

Begitu. Ternyata Shimokawa bisa membuat wajah seperti ini juga, ya. Meskipun dia orang yang menyimpan perasaannya, matanya masih berbinar, dan jelas dia tertarik pada rekanku ini.
Bisa dibilang, Shimokawa-lah yang seperti kucing dalam situasi ini. Aku bisa membayangkan dia sedang menggeram dalam pikiranku.
Aku tidak akan pernah bosan melihat berbagai wajah Shimokawa.

“Aku punya foto Lulu. Kamu mau melihatnya?” kataku sambil melirik ponselku.

“Aku mau lihat, aku mau lihat, aku mau lihat!” (Shimokawa)

Melihat sikap Shimokawa yang berubah total saat dia meminta untuk melihat foto-foto tersebut, aku tersenyum kecut dan membuka kunci ponselku.

Kawan——Aku harus memamerkanmu, maaf.
‘Yah,’ pikirku. ‘Aku merasa kasihan pada Lulu, tapi aku ingin melihat lebih banyak wajah berbeda dari Shimokawa.’

Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =


NOTE:

Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~

Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer

Previous Post Next Post
No Comment
Add Comment
comment url
Discussion
Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel
Takada Kuota - Takada Kuota - Takada Kuota
By: Mbah Du-chan