Penyihir Dosa Mematikan v2c1
Sang Penyihir Dosa Mematikan dari Akademi Sihir
Mahou Gakuen no Taizai Majutsushi
Arc 2 Festival Seni Bela Diri
Prolog
sumur di ladang: kakuyomu
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
"Hei, hei, Guru?"
"Ada apa?"
Hutan ini terletak di bagian paling selatan wilayah Anderberg, tempat pepohonan tumbuh lebat.
Mungkin karena lokasinya yang terpencil, hampir tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia, dan tanahnya kaya akan sumber daya alam, tanpa tanda-tanda pekerjaan perintis.
Mungkin karena tidak ada manusia di sana, itu juga merupakan tempat monster berkembang biak.
Jauh di kedalaman tempat seperti itu, seorang bocah laki-laki sedang menghadapi seorang gadis kecil.
"Aku ingin bisa pake sihir, aku bilang itu kan? Aku ingin belajar sihir, bukan pertarungan kaya gini. Aku pengen kekuatan buat ngelindungin seseorang, bukan dipermainin."
Bocah laki-laki itu melepaskan tendangan tanpa ampun ke arah gadis itu.
Gadis itu menghindari tendangannya tanpa usaha, dan kemudian dia melemparkan serangan telapak tangan dengan sekuat tenaga ke tubuhnya, yang penuh dengan celah.
"Gaaaah!?"
Bocah itu terlempar dan berguling berkali-kali di tanah. Karena dia tidak mampu mempertahankan kuda-kuda bertahannya, momentum tendangan itu tidak sepenuhnya padam.
"Janganlah mengeluh, nak. Pertama-tama, diriku belum pernah melihat ataupun mendengar orang tanpa mana dapat mempergunakan sihir."
"Raison d'etre Guru......"
"Dirimu bocah yang kasar, bukan?"
Entah itu karena dia dipukul atau karena dia benar-benar kecewa, bocah itu menundukkan kepalanya bahkan tanpa berusaha menyembunyikannya.
"Maksudku, Guru, Anda pake rok, tapi aku ngga bisa lihat kancut anda! Anda banyak gerak, tapi aku bahkan ngga bisa melihat sekilas kancut Anda! Jangan main-main sama aku! Itu kejam!"
"Alangkah betapa dewasanya dirimu sebelum waktunya, bocah......"
Bahu gadis itu turun karena takjub.
Memang, gadis itu mengenakan gaun one-piece sekarang. Itu bukan jenis pakaian yang diharapkan untuk dilihat dalam pertandingan semacam ini, dan itu jelas pendek. Jadi bocah laki-laki itu menatap relik celana dalam itu dengan mata elang────, tapi sayangnya, dia tidak bisa melihatnya bahkan sekilas.
"Diriku tidaklah punya apa-apa untuk ditunjukkan pada dirimu. Yah...... Jika dirimu mampu menunjukkan padaku "Raison d'être" atau "cara 'tuk mati"────apalagi pakaian dalam milik diriku ini, diriku bahkan akan memberi dirimu tubuh milik diriku ini, bagaimana?"
"...... Guru, ayahku pernah bilang, "Kenikmatan adalah Raison d'être!"."
"Jangan samakan diriku ini dengan makhluk vulgar sepertinya."
Ayah dari bocah itu, tanpa sepengetahuannya, telah dikatai vulgar.
"Tapi──── apa ada cara bagi vampir buat mati? Mereka abadi, kan."
"Itu sebabnya diriku mencari satu."
"Mau aku bawain bawang putih sama salib?"
"Diriku tidaklah menyukai bau bawang putih. Lagi pula, tidak seperti vampir lain, diriku ini keturunan setengah, dan sinar matahari bukan salah satu dari kelemahan diriku."
"...keturunan setengah?"
Bocah laki-laki itu duduk di tanah dan mendengarkan gadis itu.
Gadis itu duduk di sebelah bocah laki-laki itu dan menatap langit dengan sedikit sedih.
"Benar. Diriku setengah manusia yang hanya mewarisi kemampuan keabadian...... Makhluk menyedihkan tanpa kelemahan apapun."
Tidak peduli apakah kau mematahkan lehernya, menusuk tubuhnya, membakar tubuhnya dalam api, atau menenggelamkan tubuhnya ke kedalaman laut,────dia tidak bisa mati.
Vampir pada dasarnya adalah spesies malam yang akan menghilang saat terkena sinar matahari. Tapi jika bukan karena kelemahan itu, mereka akan menjadi monster abadi,────sebuah ras yang biasanya menjadi ancaman, bahkan jika mereka tidak mengancam ras manusia.
"Apa itu alasan anda menerimaku jadi murid?"
"Yah, tentu saja. Diriku menjadikan dirimu murid...... dengan keisengan dan setengah harapan────dirimu akan menjadi tidak lebih dari sekadar keisengan."
"Bukannya itu ngga sopan!?"
Gadis itu terkikik pada bocah laki-laki yang kesal.
Itu adalah ekspresi yang jarang dia tunjukkan sebelum datang ke sini.
"Liat aja, Guru! Aku mesti bakal wujudin apa yang anda harepin! Aku seorang pria yang ngelakuin apa yang dia putusin buat dilakuin!"
Dia berdiri dan mengepalkan tinjunya ke udara. Gadis itu melihatnya sambil tersenyum dengan cara yang polos dan sesuai dengan usianya.
"Baiklah...... diriku menantikannya, wahai muridku."
"Ya! Serahin aja sama aku, wahai guruku!"
♦♦♦
Bertahun-tahun telah berlalu sejak bocah laki-laki itu mulai bepergian ke hutan tempat gadis itu berada.
Bocah laki-laki itu tumbuh besar dan gadis itu──── masih tetap seorang gadis.
Dan hari ini, gadis itu menunggu kedatangan bocah laki-laki itu di gubuk.
Dia duduk di kursi bundar menonton api di perapian, berpikir...... dan hanyut dalam pikirannya.
(Sudah empat tahun sejak saat itu ...... waktu sungguh berlalu dengan cepat......)
Gadis itu memikirkan bocah laki-laki itu.
Dia datang kepadanya setiap hari, berlatih dan ...... mengobrol dengannya, dan setiap kali pemuda itu pergi, dia merasa sedih.
(Kufufu...... sepertinya diriku telah diracuni.......)
Diriku bertanya-tanya, sudah berapa ratus tahun sejak diriku memiliki perasaan ini?
Gadis itu merasa senang karena sudah lama tidak mengalaminya.
(Sangat disesalkan...... untuk kalah kali ini sungguh sangat disesalkan.......)
Gadis itu memainkan rambut panjang merah mudanya, memutar-mutarnya sambil menunggu kedatangannya.
"Ketika diriku memikirkannya kembali, diriku mungkin saja belum siap untuk mati......"
Alasan mengapa dia merasa menyesal adalah karena dia memiliki keterikatan yang melekat.
Untuk gadis yang telah berkeliling mencari kematian sepanjang hidupnya, dia tidak pernah berpikir dia akan memiliki keterikatan yang melekat────tetapi.
"Bergembiralah, wahai muridku......, berkat dirimu, diriku ini telah menemukan Raison d'être-ku."
Gadis itu tertawa.
Dia tampak bahagia, sangat bahagia ...... dengan air mata di matanya.
Dan kemudian────
"Bergembiralah, Guru! Dan pujilah aku, Guru!"
Pintu gubuk dibuka dengan kekuatan penuh.
Tanpa mengetuk, pintu dibuka dengan tiba-tiba dan bocah laki-laki itu muncul.
"Apahal yang terjadi...... dirimu tiba-tiba berbicara gila......"
Untuk sesaat, gadis itu mengira itu adalah sesuatu yang baru saja terjadi, tetapi ketika dia melihat ekspresi bahagia di wajah bocah laki-laki itu, dia menyadari bahwa itu bukan.
Bocah laki-laki itu mendekati gadis itu dengan antusias, meraih bahunya dan mendekatkan wajahnya ke wajahnya.
(A, apa gerangan ini...... Jantungku berdebar?)
Wajah gadis itu memerah saat jantungnya berdebar kencang atas tindakan bocah laki-laki itu.
Gadis itu bertanya-tanya tentang hal ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi sebelumnya.
Tapi saat berikutnya────, kegembiraan gadis itu runtuh dalam sekejap.
"Guru! aku akhirnya nemuin metode buat anda bisa mati, Guru! Akhirnya, aku akhirnya nemuin juga!"
Ucap bocah itu dengan nada yang benar-benar gembira.
Tapi gadis itu berbeda. Karena meskipun itu adalah sesuatu yang dia cari sejak lama,...... baru saja beberapa saat yang lalu, dia tidak lagi menginginkan metode itu.
"......Begitukah."
Gadis itu dalam suasana hati yang campur aduk.
Dia memiliki keterikatan yang melekat dan masih ingin hidup. Tapi dia juga senang bocah laki-laki itu akhirnya menemukan suatu metode...... dan dia bekerja sangat keras untuk sampai ke sana.
"Ada apa, Guru? Apa Anda ngga senang?"
Gadis yang mengatakan dia sangat ingin mati tidak bahagia.
Bocah laki-laki itu mengkhawatirkannya. Tapi gadis itu segera memasang senyum di wajahnya.
"Katakanlah padaku, wahai muridku────, dengan cara apakah gerangan diriku ini bisa menjemput ajal?"
Bocah laki-laki itu memberitahunya.
Nama metode itu────
"Metodenya adalah teknik sihir yang kutemukan────, Avaritia!"
(TLN: secara mentah, itu adalah kanji "Keserakahan" dengan furigana "Invidia". Apa ???)
♦♦♦
"Guru────, aku bakal lakuin, oke?"
"Ah...... majulah. Muridku."
Meninggalkan gubuk, bocah laki-laki itu menghadapi gadis itu.
Itu bukan pertarungan tangan kosong yang biasa, kali ini dia mendapati dirinya......untuk mencabut nyawa.
"Hak Guru untuk hidup────aku akan mencabutnya."
Perlahan,...... pelan-pelan, ucap bocah laki-laki itu padanya.
Gadis itu merasakan sensasi aneh sesuatu memasuki dirinya. Jika dia menolak, itu akan keluar,......, tapi gadis itu tidak menolak.
"Ambillah......, hakku adalah milikmu."
Hanya beberapa lusin detik waktu itu.
Suatu tujuan seumur hidup akan tercapai dalam...... waktu yang singkat.
Yang tersisa untuk dilakukan bocah laki-laki itu adalah...... untuk merebut haknya dan dia akan mati.
Tapi tiba-tiba,...... bocah itu melihat tangannya sendiri dengan perasaan yang dalam.
Bocah itu kemudian membuka mulutnya dengan nada suara rendah, seolah kegembiraan yang baru saja dia tunjukkan adalah sebuah kebohongan.
"......Aku seneng akhirnya bisa ngabulin keinginan guru sampe beberapa menit yang lalu. Soalnya aku tahu guru selalu ingin mati."
"......"
"Tapi sekarang aku hampir ngewujudinnya...... tanganku gemeteran."
Ketika dia melihatnya, tangan bocah laki-laki itu benar-benar gemetar.
Itu bukan karena────dia akan mengambil nyawa untuk pertama kalinya.
"Hei,...... Guru? Apa boleh aku egois sebentar?"
"......"
Gadis itu tidak mengeluarkan kata-kata.
Tapi anak itu masih meludahkan kata-kata.
"Gimanapun...... aku ngga mau anda mati. Masa-masa itu nyenangin dan aku ngehargai itu.──── Anda selalu pengen mati....... Tapi aku ngga mau anda mati. Aku ngga peduli kalo anda ngusirku karena egois......, tapi apa bisa anda hidup sedikit lebih lama?"
Air mata menetes di pipi bocah itu.
Apakah karena seseorang yang dekat dan berharga baginya akan mati, atau karena dia dengan tulus merasakan hal itu?
Dengan egois, dia meminta mereka yang ingin mati untuk merasakan sakitnya hidup sedikit lebih lama.
Atau mungkin karena dia menyesal untuk itu.
Melihatnya seperti itu, gadis itu────
"Alangkah bodohnya dirimu."
"... eh?"
Dia mendekati bocah laki-laki itu dan meraih tangannya yang gemetar.
"Setidaknya dirku akan mengabulkan permintaan milik dirimu, muridku,────seperti yang diriku tidak duga......untuk merasa sedikit menginginkan kehidupan."
Untuk melindungi seseorang, untuk tidak dipermaikan oleh orang lain, dan kemudian────
Teknik sihir pertama anak itu adalah Keserakahan, karena dia ingin menjaga sosok dermawannya tetap hidup.
[Bersambung]
Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
NOTE:
Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~
Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer