Ikemen ni Tenseishita Bab 9
sumur di ladang: foxaholic
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Hmm, mari lihat apa sedang terjadi. Ada seorang bibi yang baru saja masuk tanpa izin ke ruang tamu sambil mengatakan sesuatu tentang wahyu ilahi dan blablabla–––Eh, maaf, itu sangat tidak penting sehingga pikiranku secara otomatis menyaringnya sebagai ocehan tua bangka––, terlihat agung dan sombong di depan ayahku
Dia mengatakan sesuatu dengan kata-kata ayahku tidak akan memiliki anak lain atau wilayahnya akan mengalami krisis jika dia menolak untuk memberikan barang apa pun itu sebagai persembahan kepada Dewa.
Apa benar? Apa dia mengatakan bahwa aku memiliki masa depan yang suram yang menungguku?
Tidak hanya itu, dia juga mengatakan bahwa jika ayahku menolak untuk memberikan barang apa pun itu, Dewa akan mengutuknya hingga keturunan ayahku... Apa dia benar-benar menganggap kami tolol?
Dan sejujurnya, apa yang dia katakan barusan sangat tidak sopan. Tidak hanya itu, tetapi mengesampingkan kekasarannya, apakah dia benar-benar mengharapkan kami melakukan apa yang dia katakan hanya karena dia mengklaim dia menyampaikan firman Dewa?
Sungguh? Jika kami melakukan itu, maka itu akan menjadi kesalahan terbesar yang bisa kami lakukan. Lagi pula, dari berbagai pelajaran sejarah, telah diakui bahwa mengikuti kata-kata dari ramalan dalam segala hal adalah ide yang buruk.
Tindakan melibatkan ramalan dalam politik tidak hanya terjadi di dunia kehidupan masa laluku, tetapi juga di dunia kehidupan ini. Dan jika kita menelusuri kembali sejarah, kita akan menemukan bahwa tindakan ini terjadi bahkan sebelum berdirinya kerajaan ini.
Bagaimanapun, wanita itu akhirnya mengatakan sesuatu yang terdengar terlalu mencurigakan bagiku.
Dia mengatakan Dewa ini dan itu sejak tadi, tapi yang mana yang dia maksud? Lagi pula, ada banyak kepercayaan di dunia ini, dan begitu banyak penganut juga. Selain itu, tren saat ini sedang menurun. Faktanya, di zaman sekarang ini, agama-agama di dunia ini diperlakukan sama seperti yang diperlakukan di Jepang.
Orang-orang masih akan mengadakan upacara peringatan untuk leluhur mereka, melakukan salam tahun baru, atau menguburkan orang yang meninggal. Dan meskipun mereka masih menghormati dan takut akan hal-hal gaib, hanya sedikit orang yang akan mempertahankan iman mereka sampai menjadi penghalang bagi kehidupan sehari-hari mereka.
Oleh karena itu, sebagai seseorang yang dulu hidup dalam masyarakat seperti itu, memiliki seseorang yang mengatakan hal-hal seperti Dewa meminta persembahan terdengar lebih seperti lelucon bagiku.
Namun, ibuku memercayai peramal mencurigakan itu.
...Tidak, ibu mungkin tidak ingin mempercayai wanita itu, tetapi hal-hal berkembang sedemikian rupa sehingga ia tidak punya pilihan lain selain mempercayainya.
AAH, ini mungkin sesuatu yang mirip dengan ITU!
Itu adalah sesuatu yang terjadi di kehidupan masa laluku. Saat itu, kakak perempuanku baru saja lulus SMA. Tapi kemudian ibuku menerima telepon lelucon yang menyatakan bahwa kakakku diculik. Mendengar itu, ibu dan aku sama-sama panik, sambil berkata, "Apa yang harus kita lakukan? Kakak diculik!"
Sementara itu, kakakku ada di depan kami, memakan senbei dan menatap kami dengan geli. Akhirnya melihat dia di sana, kami segera tenang dan menyeka keringat kami.
Dan ketika kami membuat laporan ke polisi, mereka hanya memberi tahu kami bahwa 'panggilan iseng seperti itu terjadi berkali-kali sepanjang tahun ini' . Selain itu, mereka bahkan mengatakan kepada kami untuk 'pastikan bahwa anda tidak memberi mereka apa pun bahkan jika mereka meminta uang tebusan.'
Atau, seperti waktu itu kakakku pulang ke rumah keluarga kami setelah dia menceraikan suaminya. Pada kesempatan itu, keponakanku menangis sambil mengatakan hal-hal seperti, 'polisi akan datang menangkapku karena menggelapkan uang perusahaan~'. Padahal saat itu, keponakanku menambahkan: 'Aku masih terlalu muda! Tapi Bu, apa itu perusahaan~?!' yang dengan rapi menyebarkan situasi.
Mengingat ingatan itu, aku dapat menjamin sekali lagi bahwa YAP, tidak peduli dunia mana itu, setiap ibu tampaknya lemah terhadap anak-anak mereka. Bahkan ibuku dalam kehidupan ini menjadi panik ketika peramal mencurigakan datang dengan cerita yang tidak realistis tentang masa depanku.
Namun, pada tingkat ini, ibu mungkin akan dipaksa untuk membeli sesuatu yang mahal seperti jimat omong kosong atau toples keberuntungan.
Atau mungkin jumlah uang yang dikeluarkan ibuku untuk peramal mencurigakan itu telah mencapai jumlah yang mengganggu ayahku, dan itulah sebabnya mereka bertengkar?
Oh, aku sudah keluar jalur. Bagaimanapun, kasus ini pasti mirip dengan kasus itu. Kau tahu, di mana pendeta, peramal, dan pedagang aksesori bersekongkol. Dengan kata lain, ini adalah kasus penipuan.
Namun, jika memang benar demikian, maka para pedagang yang datang ke kediaman kami juga mencurigakan. Tapi kami tidak bisa membawa kasus ini ke pengadilan, apalagi dengan posisi kami sebagai bangsawan, karena kami pasti akan dirugikan jika kami melakukan itu.
Dan jika aku tidak bisa menyelesaikan kasus ini sekarang, aku sudah bisa melihat masa depan di mana keluargaku terus ditipu oleh orang-orang seperti ini. Oleh karena itu, aku harus memeriksa wanita tua ini di sini dan sekarang juga.
Sekarang, nikmati saat-saat terakhirmu, wanita tua bangka sialan.
Pertama, aku melihat kalung, gelang, dan cincinnya yang besar. Hanya dengan satu pandangan, aku tahu bahwa semua barang itu tidak cocok satu sama lain. Sederhananya, gayanya berantakan, seolah-olah dia baru saja mengambil aksesori apa pun yang tersedia di sekitarnya untuk mengelabui ibuku.
Serius, selera fesyennya sangat mengerikan.
Ngomong-ngomong, setelah memeriksanya, aku melihat pelayan yang berdiri di belakang wanita tua bangka itu. Meskipun dia mengenakan seragam yang mirip dengan yang dikenakan pelayan kami, sorot matanya menarik perhatianku seolah-olah dia sedang mengejek ibuku yang kebingungan jauh di lubuk hatinya.
Melihat keanehan ini, dalam hati aku tersenyum.
Aku mengerti sekarang. Quod Erat Demonstrandum (Sudah Terbukti)
"Kevin, aku butuh bantuanmu."
"Baik, Tuan Muda."
Setelah membisikkan beberapa instruksi kepada Kevin, aku mengarahkan perhatianku ke peramal mencurigakan itu dan berbicara.
"Hei, Bibi, kau terus mengatakan bahwa semacam bencana akan menimpaku. Namun, kau tidak pernah menyebutkan apa itu. Bisakah kau memberi tahuku tentang bencana itu? ”
"Theodore! Kamu tidak perlu khawatir tentang hal-hal seperti itu! Biarkan mama menanggung beban itu untukmu, nak!”
"Tidak apa-apa, jangan khawatir, Bu."
Ibuku memelukku erat-erat dalam pelukannya, seolah-olah dia tidak mau berpisah denganku. Namun, saat ini, itu merusak rencanaku, jadi aku mati-matian mendorongnya ke belakang dengan tanganku. Lalu saat itu---
"Theodore."
"Tidak apa-apa, ayah. Tolong jaga ibu sebentar."
Ayahku akhirnya mengangguk setuju setelah dia melihat wajahku sesaat. Lalu kemudian mundur agak jauh sambil membawa ibu bersamanya. Pada saat ini, Martha dan Kevin yang menunggu di belakangku memberi anggukan, jadi aku mempersiapkan diri. Sementara itu, meskipun Sebas terlihat cemas karena dia tidak tahu apa yang aku rencanakan, dia terus menonton kejaian yang akan segera tersingkap. Siap untuk bertindak pada saat itu juga.
Ketika aku melihat kembali ke wanita tua itu, aku melihat matanya berkedut sejenak, tetapi itu hanya sesaat karena segera digantikan dengan senyum prihatin.
"Wah, wah, anda pasti Theodore-sama, bukan. Saya Tara, peramal. Anda boleh memanggil saya Tara.”
"Okee, bibi. Lalu, ceritakan tentang takdirku.”
"Nama saya Tara, Theodore-sama. Tara ini dapat mengubah nasib anda dan meningkatkan keberuntungan anda. Dan Tara ini akan menunjukkan kepada anda bagaimana dia bisa mengusir malapetaka yang akan menimpa anda. Namun, untuk mencapai itu, anda harus menawarkan saya 'Tiara Suci' yang dimiliki Sang Earl. Itu sebabnya Theodore-sama, Anda perlu membujuk Earl-sama, jadi dia akan menawarkan tiara itu kepada saya. Ini demi keselamatan anda sendiri."
"Aku bilang untuk memberitahu padaku lebih banyak tentang bencana itu, kan? Apa kau tuli, bibi?"
Uwaah, itu pasti senyum paling menakjubkan dan paling kaku yang dia buat sampai sekarang. Menarik.
"B-Bencana adalah bencana. Saya tidak bisa memberi tahu anda lebih banyak tentang itu. Ta-Tapi saya tahu bahwa Theodore-sama akan dilanda bencana beberapa tahun ke depan. Saat ini, bencana sedang dihalangi oleh perbuatan baik yang dilakukan Selina-sama. Namun, hanya masalah waktu sebelum bencana menimpa Anda. Jadi, kecuali anda mempersembahkan 'Tiara Suci' kepada Dewa, anda tidak akan bisa menghindarinya. Faktanya, selama anda mempersembahkan 'Tiara Suci', semuanya akan lenyap sekejap. Tara ini menjaminnya. Masa depan Teodore-sama seharusnya aman selama amda mempersembahkan tiara tersebut."
"Aku tak paham karena kau terlalu banyak bicara, tapi aku tahu satu hal. Aku tahu bahwa kau sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang apa yang disebut bencana ini, apa aku benar, bibi? Singkatnya, kau tidak tahu tentang masa depanku, bukan? Semua pembicaraan tentang bencana ini hanyalah caramu untuk menipu ibuku demi uang, kan?"
"Apakah anda mengejek Tara ini?"
"Tidak. Aku hanya ingin tahu tentang bencana di masa depan yang kau bicarakan."
Setelah memelototiku sebentar, bibi itu tiba-tiba tertawa.
"Begitu. Anda ingin bukti, kan? Nah, anda akan melihat dengan mata kepala sendiri. Tindakan mengutukku, utusan dari Dewa, adalah bukti bahwa Theodore-sama dirasuki oleh roh jahat. Saya, Tara ini, akan mengungkapkan sifat aslimu sekarang!!"
Whoah, lihat yang dia lakukan. Meskipun aku hanya memintanya untuk menunjukkan buktinya, dia langsung menyalahkan roh jahat yang tidak ada dalam diriku. Kau benar-benar harus mengagumi dedikasinya untuk menipu orang, sungguh.
“O, ROH DI LANGIT DAN BUMI, BERSIHKAN ROH JAHAT YANG MERASUKI JIWA ANAK INI..."
Setelah bibi mengatakan itu, dia mulai bergumam. Kemudian, embusan angin tiba-tiba bertiup ke dalam ruangan entah dari mana.
"AAH, THEO! THEODORE! BIAR AKU SAJA! TOLONG, HUKUM AKU BUKAN ANAKKU! TOLONG AMPUNI THEO!!"
"Theodore!"
Pada saat ini, ayah dan ibu mulai kehilangan ketenangan mereka. Namun, aku hanya tersenyum pada mereka, diam-diam mengatakan kepada mereka, 'Tidak apa-apa, aku aman dan sentosa'.
Sementara itu, hembusan angin bertiup semakin kencang setiap saat. Bahkan berhasil menerbangkan beberapa perabotan di dalam ruangan.
"KEVIN!"
"Baik, Tuan Muda!"
"KYAAA!"
Kevin segera bergerak begitu aku memberinya isyarat, dan menjatuhkan pelayan yang berdiri di belakang bibi itu. Begitu dia mengekang pelayan itu, badai berhenti.
Setelah itu, Sebas mengambil benda seperti papan yang terguling dari tangan si pelayan dan melihatnya sebelum mengatakan, "...Alat sihir angin!"
Oh, seperti yang diduga. Ini trik murahan, ya. Sambil berpikir dalam tentang itu, aku mengacungkan jempol ke Kevin untuk menunjukkan 'kerja bagus' . Namun, saat itu, aku tiba-tiba dipeluk erat dari belakang.
"AAH, THEO! THEODORE! PUJI SYUKUR KAMU SELAMAT!"
Itu dari ibuku.
"Theodore-kun... syukurlah..."
Ayah juga datang dan memeluk Ibu dan aku, tampak seperti akan menangis. Tetapi terlepas dari kenyataan bahwa orang tuaku terlihat tertekan, aku malah merasa bahagia. Lagi pula, dari pelukan ini, aku tahu bahwa masalah mereka akan segera terpecahkan.
Regards: Mimin-sama
= = = = = = = = = = = = = = = = = = =
NOTE:
Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~
Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer