Chapter 2 – Anehnya Dia Tipe Orang Yang Membawa Sapu Tangan
Mahou? Sonna Koto Yori Kinniku da!
(Sihir? Otot mah Lebih Pro ea!)
Chapter 2 – Anehnya Dia Tipe Orang Yang Membawa Sapu Tangan
supported by: Niat
pantawed by: ASW
* * * * *
Di depan kami, ada sederetan piring kayu yang kosong.
“Anjiiir, akuh udah makan banyak... akuh gak bisa nambah lagi ....”
Firia mengatakan itu sambil menepuk-nepuk perutnya. Jumlah yang dia
makan sangat sedikit, hanya sekitar sepersepuluh dari porsiku.
“Gua pikir elu tipe yang ngabis-ngabisin, tapi enggak nyangka elu
cuma makan dikit, ya.”
Karena dia bilang 'enak, enak' jadi kupikir makanannya sesuai dengan
seleranya, tapi sepertinya perutnya tidak sebesar itu.
“Akuh pingin nambah lagi, tapi tangki bensinku udah penuh nih. Akuh
iri bat ama elu bisa makan banyak gitu, Yuri-san.”
“Penampilanlu keliat ringan banget. Gimana kalo menambah berat
badan dikit lebih banyak?”
Aku mengamati tubuh Firia sekali lagi.
Meskipun dia mengatakan bahwa perutnya kenyang karena makan, tidak
ada perubahan sama sekali pada tubuhnya yang ramping.
Ketika aku menatap Firia seperti itu, dia menyilangkan tangannya
seolah-olah menyembunyikan dadanya yang sederhana.
“Ah, Yuri-san mikirin kalo akuh menyedihkan....”
“Jangan sembarang nuduh lah cuk!”
“Apa, salah ya tod?. Alhamdulillah.”
Sambil tertawa ringan seolah bercelu, Firia berdiri sambil mengatakan
'Oi sho'.
“Makasih badhogannya. Rasanya mantul, manjiw tenan.… Kalo gitu,
akuh pikir akum mesti cepet-cepet cabut deh.”
“Sek sek, mengko disek cuk.”
Gua manggil Firia yang berdiri dan berniat meninggalkan rumah gua.
Dia mencondongkan lehernya seolah bertanya, ‘Ada apa?’.
Sama Firia yang kaya gitu, gua ceritain perasaan jujur gua sama dia.
“Gua juga pengin cabut dari hutan ini. Apa gapapa kalo gua cabut
bareng lu sampai luar hutan?”
Gua gak pernah ngerasa kesepian sejak gua tinggal sendirian di dalam
hutan ini.
Gua juga gak merasa ngga puas sama mata pencaharian gua di sini,
karena ada fakta kalo gua bisa dapet beberapa magical beast
buat makanan gua ndiri.
Tapi, aku ketemu ama dia.
Firia emang orang yang aneh, tapi dia bukan orang jahat. Atau lebih
tepatnya, secara pribadi, mungkin gua bisa ngomong kalo dia adalah
orang yang baik.
Gua gak pernah mikir buat ninggalin hutan ini. Mungkin, tanpa sadar
gua ngehindari pemikiran kaya gitu.
Tapi, ngobrol bareng Firia, ketertarikan gua ama dunia luar yang
secara gak sadar kukunci, ngalir keluar.
Gua pengin tahu lebih banyak lagi tentang berbagai macem hal.
Gua pengin ngelayab main ke banyak tempat.
Gua pengin ketemu banyak orang.
–Terus, dari semuanya, gua pengin tambah
kuat.
Perasaan kaya gitu dengan cepat menuhin hati gua.
Gua gak punya keterampilan buat mblokir keinginan yang mengamuk itu.
Firia yang mendengar kata-kataku menatap tanah dan seakan ragu-ragu
sedikit, lalu dia menatapku.
“Lalu, ayok cabut bareng? Akuh juga baru saja ninggalin kampungku,
terus akuh sendiri jadi dikit cemas, lagipula, akuh bakal ngerasa
lebih tenang kalo ngajak Yuri-san bareng akuh.”
“Ooh! Salken Salkomsel bosque!”
Jadi, gua mutusin buat ninggalin rumah yang udah lama gua tempatin.
◇ ◇ ◇
Gua ama Fria jalan ngelewatin hutan yang dalam.
Bagi Firia yang tak kehabisan nafas walaupun kami udah jalan begitu
lama, aku diam-diam tercengang. Berlawanan sama penampilannya yang
lemah, anehnya staminanya mantap jiwa.
“Kita masih gak bisa liha pintu keluarnya, ya. Yuri-san, apa elu
masih baik-baik aja?”
Sebaliknya, dia bahkan punya kelonggaran buat ngakhawatirin gua.
“Gua baik-baik aja, sehat wal afiat. Atau lebih tepatnya, aku
terkejut elu punya stamina banyak itu, Firia.”
“Lagipula, Elf kan warga hutan. Kecuali tempat-tempat di luar
hutan, selama kami berada di dalam hutan, itu kayak jalan-jalan di
taman.”
Firia mengatakannya sambil mengembuskan dadanya yang sederhana.
“Warga hutan tapi malah kesasar di dalam hutan, kan ....”
“Eh tod, Elu udah janji kalo elu tidak bakal nyebutin itu lagi,
kan.”
Sambil bertukar kata-kata seperti itu, aku dan Firia berkeliaran di
sekitar hutan.
Dan kemudian, dari depan kami, ada suara seolah-olah beberapa pohon
didorong.
“Magical beast?”
"Nah, sekarang giliran akuh buat pamet kemampuan, kan?”
Firia dengan datar mengatakannya sambil menghadap magical beast
yang muncul.
Tinggi magical beast itu, yang berjalan dengan empat kakinya,
berada di pinggang Firia. Ia memiliki tanduk yang luar biasa di
dahinya, bahkan di dalam hutan ini, ia cukup kuat. Apalagi dagingnya
enak, bagi gua itu adalah magical beast yang murah diperoleh.
Gua tidak tahu namanya.
“Gargas, ya. Kayaknya akuh gak bakalan bikin gampang di sini.”
Sepertinya magical beast di hadapan kami dipanggil gargas.
“Modaro cuk.”
Firia mengarahkan telapak tangannya ke magical beast, dan
menembak bilah air.
Dengan kecepatan sangat tinggi, bilah air yang ditembakkan menembus
magical beast dari mulutnya sampai ujungnya dalam sekali
jalan.
Magical beast telah mati bahkan tanpa mampu mengangkat satu
suara pun.
“Kelar dah. Baru aja akuh pake sihir air, tapi gak cuma itu akuh
juga bisa pake beberapa sihir lain kayak sihir api, sihir petir,
sihir angin, dan juga sihir pemulihan. Selama akuh punya energi
magis, akuh bahkan akan bisa menumbuhin lagi lengan yang hilang. Tapi
gak mungkin kalo waktu ugah lama.”
“...Amanjing, mantap jiwa tenan.”
Gua ngucapin kata kagum.
Aku sudah bertanya-tanya bagaimana dia bisa bertahan hidup sementara
tersesat di dalam hutan yang didominasi magical beast ini,
tapi gak heran sih kalo dia sekuat gitu. Tumbuhkan kembali lengan
yang hilang bukanlah prestasi seorang penyihir biasa, kan.
Bertentangan dengan itu, Firia melambaikan tangannya seolah bukan
apa-apa.
“Akuh itu elf, gimanapun juga, yang kayak gini mah masalah kecil
aja. Atau lebih tepatnya, prestasi akuh mah jauh.”
“Engga engga, gak masalah biarpun elu peri, itu gak berarti elu
bakal langsung bisa ngelakuin semuanya sejak elu dilahirin, kan?
Jujur gua ngehargain usaha besar elu. Elu beneran luar biasa, ya,
Firia.”
Sejujurnya aku mengagumi sihir.
Karena, Kau bisa mengeluarkan air atau api dari ketiadaan, tahu?
Siapa pun pasti mengaguminya juga.
Bagiku yang telah tinggal di dalam hutan ini untuk waktu yang lama,
aku tahu apa itu sihir, tetapi aku juga tahu betapa sulitnya
mempelajarinya. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk dapat
menggunakan sihir yang sangat kuat.... Selain itu untuk dapat
menggunakan empat jenis atau lebih banyak, aku tak bisa membayangkan
betapa banyak usaha yang dia lakukan.
“Gi, Gitu ya. Ma... makasih banyak.”
Mungkin dia tidak terbiasa dipuji, Firia bermain dengan rambut
peraknya seolah malu.
Itu adalah reaksi yang agak mengejutkan. Untuk dapat menggunakan
sihir sejauh itu, tidak apa-apa jika dia bertindak sedikit lebih
sombong.
"Itu, aku engga malu atau apalah gitu, tau!"
Atau begitulah kata Firia sambil membusungkan dadanya yang sederhana,
dan dengan datar menunjuk ke arahku.
Dan kemudian, dia segera menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Di sana, elu mikir bahwa dadaku tuh sangat sederhana, kan!
Yuri-san hentor, sugiono!”
“...kenapa elu tahu apa yang gua pikirin?”
“Itulah kemampuan yang akuh punya. Ini disebut "mind
reading", itu mbiarin akuh buat baca pikiran orang! Tapi itu
cuma bisa dipake buat orang yang berhati-hati sama akuh. Gimana tuh
cuk, mantul kan?”
Firia dengan bangga mengatakannya sambil mengelus dadanya yang
sederhana lagi, dan meletakkan tangannya di pinggangnya.
“Itu ...warbyasah, mantul, manjiw abis.”
Sekalipun itu hanya bisa digunakan untuk seseorang yang berhati-hati
padanya, tetapi untuk bisa membaca pikiran seseorang pasti akan
menjadi keuntungan yang cukup besar dalam pertarungan.
Ketika aku berkata begitu, Firia dengan cepat mengalihkan
pandangannya, dan kemudian berbalik memunggungiku.
“... tolong jangan liat akuh bentar, *hiks*.”
“A, apa gua ngomong yang salah? Maaf, gua beneran minta maaf!”
Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisahku ketika Firia
tiba-tiba menangis.
Apa yang baru aja gua omongin!?
Apa gua baru aja ngomong sesuatu yang menyakitin perasaannya!?
Sekarang gua mikirin itu, gua gak punya pengalaman tentang hubungan
manusia. Gua gak tau apa yang mbikin dia nangid.
Firia, yang memunggungiku, bahunya gemetar, mungkin dia merasakan
kebingunganku, jadi dia menjelaskannya kepadaku.
“Bukan itu. *hiks* ... akuh cuma, ngerasa dikit senang.”
“Senang?”
“*sob*. Karena ... kamuh ngomong kemampuankuh warbyasah!
Karena, orang-orang di kampungku ngomong kalo itu menjijikkan!…
*Hiks*…. Tolong pinjamin akuh saputangan.”
Aku memberikan saputanganku pada Firia yang masih memunggungiku.
Firia mengulurkan lengan putih dan rampingnya untuk mengambilnya.
Dan kemudian dia menyeka air matanya dengan itu, dan menggunakannya
untuk membersihkan ingusnya. Setelah itu, dia mengembalikan
saputanganku padaku.
“Eh cuk... ini saputangan punya orang, tau?”
“Gak masalah. *Hiks*. Toh aku kan cantik jelita.”
“Apa hubungannya cuk.”
Beneran alasan yang membingungkan, tapi aku selamat karena itu
membuatnya berhenti menangis. Karena dia sudah menangis, sepertinya
perasaannya akan segera tenang.
◇ ◇ ◇
Gua sewenang-wenang milih waktu yang tepat untuk memanggilnya.
Matanya masih merah tetapi sepertinya dia sudah cukup tenang.
“Kayaknya elu udah tenang.”
“Biasanya, pada saat seperti ini kamu harusnya mengatakan 'dikau
bisa menangis menumpahkan semua air matamu di
dada Aa’' atau gitulah kira-kira, tau?”
“Dikau bisa menangis menumpahkan semua air matamu di dada Aa’.”
“Enggak, gak apa-apa, aku udah berhenti nangis. Lagian, aku bukan
cerek gampangan.”
Firia dengan acuh tak acuh mengatakannya dengan matanya yang masih
merah.
Dan kemudian, setelah diam selama beberapa detik, dia membuka
mulutnya lagi.
“... tapi, yah, enggak kaya aku enggak seneng buat dipuji. Terima
kasih banyak.”
Dan begitu kata Firia sambil tertawa Nihihi. Senyum itu cukup
untuk memikat siapa pun yang melihatnya.
Namun demikian, untuk mengatakan 'enggak kaya aku
enggak seneng'... meskipun tidak
apa-apa untuk hanya mengatakan 'aku seneng'.
Sungguh orang yang tak jujur.
Untuk Firia seperti itu, aku bisa merasakan mulutku sedikit
melonggar.
“Enggak apa-apa, gua cuma ngomong apa yang gua pikirin, jadi elu
ngga perlu berterima kasih sama gua. Itu sebabnya, Firia, elu juga
mesti hidup sama kayak apa yang elu penginin. Otot nih, keren beud,
kan?”
"Ngga, tuh, aku ora paham babar blas tod.”
Bagi gua yang nunjukin otot gua yang terlatih, Firia menatapku dengan
ekspresi dingin.
Sungguh menyedihkan buat orang yang gak bisa mahamin kemegahan
otot-otot ini.
* * * * *
End of Chapter
Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~
Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer