Raja Iblis Perbatasan - 88

Raja Iblis Perbatasan

88 - Penjelajahan 'Dungeon Raksasa Elysion' oleh 'Guild Sihir' – Hari Pertama (3)

sumber: https://ncode.syosetu.com/n9450fl/88/



Di ruang rahasia yang kami temukan, ada sebuah golem.
Di sudut ruangan, tergeletak jubah dengan lambang "Gereja Sanctuary".
Tidak diragukan lagi kalau ini adalah tempat yang punya hubungan erat dengan mereka.

"Artefak peninggalanan ‘Gereja Sanctuary’, tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh ‘Guild Sihir’, kan?"
"Kalau mereka menemukannya, aku yakin pasti sudah dikumpulkan."
"Kalau begitu… berarti tempat ini masih merupakan ‘wilayah yang belum pernah dijelajahi’, ya."
"Hebat sekali, Dyck dan kalian semua. Kalian benar-benar menemukannya."

[[[[Ini berkat Tuan yang memberi kami kecerdasan dan indra]]]]

Dyck dan yang lainnya bersuara dari atas bahuku.
Benar-benar. Pasukan kelelawarku ini luar biasa.

[VO! VUOOOOO――――!!]

Dengan suara dentuman berat yang mengguncang tanah, Golem Batu mendekat.
Kalau ingin menyelidiki artefak peninggalan Gereja Sanctuary, kami harus membereskan dia terlebih dahulu.

"Apa yang akan kita lakukan, Yuuki?"
"Golem-nya aku yang urus. Iris dan Odette, tahan dia."
"Baik." "Dimengerti."

Iris dan Odette mengangguk.

Aku mengaktifkan Boosted 2.6, lalu mulai berlari.

[VO!? VUOOO!!]

Kepala golem menoleh ke arahku. Tapi terlambat.
Atau lebih tepatnya, aku yang terlalu cepat.

Padahal hanya meningkatkan Boosted menjadi 2,6 kali, tapi kecepatan gerakku meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Memang pantas disebut Sihir Kuno. Efeknya jauh melampaui perkiraan.

[GUUU! GAHAAAAAA!!]

Golem itu mengayunkan lengannya mati-matian untuk mencegahku mendekat.

Dan di saat itu—


BOOM BOOOOM BOOOOOOOOMMMM!!


Dengan suara keras, puluhan bola api jatuh menghantam.
Lokasinya berlawanan arah denganku. Golem yang terkejut pun menoleh ke sana.

BOOM BOOOOM BOOM BOOOOM!!

Namun kali ini, serangan menghantam dari arah punggungnya.
Saat golem memutar tubuhnya lebih jauh, api pun jatuh dari atas kepalanya.

"—Inilah kekuatan Boosted 1,5 yang diberikan oleh My Lord!!"

Rambut perak Iris berkibar saat ia melayang di udara.
Dalam kondisi Boosted 1,5, ia menjejak tanah dan melompat ke udara. Dalam keadaan itu, ia merapal mantra dan menggambar rune Ifrit Blow, lalu menembakkan peluru api. Setelah selesai, ia kembali mengaktifkan Boosted.
Dengan mengulangi itu terus-menerus, Iris bergerak bebas ke segala arah.

"Aku tidak akan mengizinkan siapa pun menyentuh My Lord. Selanjutnya, tolong, Odette."
"Baik. Infusi Atribut Api—Force of the Earth."

BOOOOOOOOMMMM.

Sebuah tombak batu muncul dari tanah lalu menembus dada Golem Batu yang berlutut.

[GUAAAAAAHHHHH!!]

Ujung tombak batu dari sihir Odette berpijar merah membara.
Itu adalah kekuatan Ifrit Blow yang kuukirkan padanya.
Batu yang berpijar merah itu menancap kuat di dada golem, melelehkan tubuh batunya sedikit demi sedikit.

"…Kalian berdua berlebihan."

Aneh. Aku tidak berniat membuat mereka sekuat ini.
Kalau begini, bukankah Iris dan Odette saja sudah cukup untuk mengalahkan golem?

"Tapi sebelum membatalkan sihirnya, kita harus memeriksanya dulu."

Aku melompat ke punggung golem.
Aku menggores telapak tanganku dengan belati, lalu menuangkan darah Mystel ke sendi-sendi golem. Lalu—

"—Aktifkan, 'Hacking'."

Aku mengaktifkan sihir Hacking.

──Sihir internal: analisis dimulai.

Gerakan golem berhenti.

──Analisis struktur sihir: Tujuan golem: "mengusir penyusup".
──Pengecualian: anggota Gereja Sanctuary.

Golem itu berlutut ke tanah.

──Pola kekuatan sihir: analisis selesai
──Golem dihentikan.

Zzzzzzzzz!!

Golem itu roboh ke tanah.

"Hacking selesai. Sekarang, dia tidak akan menyerang kita lagi."
"Kerja yang menakjubkan, My Lord."
"Ini pertama kalinya aku bertarung melawan golem, tapi entah bagaimana berhasil ya."
"Kalau aku, tidak ada kesulitan, tapi…"

Iris dan Odette... mereka sudah menjadi jauh lebih kuat, di tingkat yang benar-benar berbeda.
Iris, dalam kondisi Boosted 1.5, melompat-lompat dari lantai sampai ke langit-langit, sementara Odette menambahkan elemen api pada sihir kuno dan menusukannya menembus tubuh golem.

Terus terang, ini berlebihan.
Aku tahu mereka berdua punya bakat sihir, tapi tidak menyangka sampai sejauh ini.

Kalau dipikir-pikir, mereka berdua memang seorang putri kerajaan dan bangsawan, yang sejak awal belajar sihir kuno secara formal.
Dibandingkan denganku yang "bisa memakai secara asal", perbedaannya jelas sekali.
Kalau ada pemicu, wajar saja kalau bakat mereka berkembang pesat.

"Manusia memang luar biasa ya."

Dari sudut pandangku yang abadi, kecepatan pertumbuhan mereka bahkan terasa membuat iri.
Aku juga harus serius mempelajari masyarakat manusia selagi masih berada di masa pertumbuhan ini.

"Ada apa, My Lord?"
"Tidak apa-apa. Yang jelas, golem ini memang buatan ‘Gereja Sanctuary’, sesuai dugaan."
"Jadi benar, ya."
"Aku bisa langsung melakukan Hacking dengan mudah. Kalau artefak kuno, biasanya butuh waktu lebih lama."
"Itu cara membedakan yang luar biasa sekali."
"Hacking milik My Lord memang sudah hebat sejak kehidupan sebelumnya."
"Itu keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup menyamar di masyarakat manusia."

Agar bisa berpura-pura sebagai manusia, kemampuan Hacking memang wajib bagiku.
Aku tidak menyangka kalau itu bahkan bisa digunakan pada sihir kuno.

"Bagaimanapun, golem ini diatur untuk menyerang siapa pun yang tidak memiliki lambang ‘Gereja Sanctuary’. Untuk sementara, aku sudah mengubahnya supaya tidak menyerang kita."

Urusannya jauh lebih merepotkan kalau berurusan dengan familiar yang masih hidup.
Tapi yang ini setara dengan jebakan atau armor berjalan, jadi mudah ditangani.

"Namun… ruangan ini sebenarnya digunakan untuk apa, ya?"

Iris memandang sekeliling ruang rahasia itu dengan ekspresi heran.
Di sudut ruangan berbentuk lingkaran, jubah-jubah usang menumpuk.
Semuanya memiliki lambang Gereja Sanctuary.
Di sisi berlawanan dari tempat kami masuk, ada sebuah pintu lain, sepertinya terhubung ke suatu tempat.

"Yuuki, apa kamu tahu sesuatu?"
"Kalau berdasarkan intuisi saja."
"Tidak apa-apa. Tolong beri tahu kami."
"Menurutku, ini adalah jalur pelarian yang digunakan oleh sisa-sisa ‘Gereja Sanctuary’."
""……Eh!?""
"Katanya ‘Gereja Sanctuary’ musnah di dungeon ini, kan? Tapi sisa-sisa mereka masih ada di dunia ini. Tempat ini adalah lorong rahasia dan ruang tersembunyi yang mereka gunakan untuk melarikan diri dari dungeon. Mungkin."
"Kedengarannya masuk akal."

Iris mengangguk dengan wajah serius.

"Di akhir Perang Delapan Raja, aku dengar ‘Gereja Sanctuary’ bertahan di dungeon ini dan memberi perlawanan. Kalau mereka memanfaatkan kekacauan saat itu untuk keluar lewat pintu rahasia dan melarikan diri, semuanya bisa dijelaskan."
"Jadi itulah alasan sisa-sisa mereka masih bertahan sampai sekarang."
"Tidak ada bukti pastinya, sih."

Aku menyentuh tumpukan jubah di sudut ruangan.
Lambang logamnya masih mempertahankan bentuk aslinya.
Namun kainnya sudah rapuh. Begitu disentuh, langsung hancur dengan sendirinya.

"Yuuki. Di bawah jubah ini, ada sesuatu."
"Ini… batu prasasti?"
"Batu prasasti!? Tolong perlihatkan. My Lord, Odette!!"

Seru Iris.
Kami menarik sebuah batu prasasti kecil dari bawah jubah-jubah tua itu.
Karena tertutup debu, warnanya tampak abu-abu.
Namun setelah debunya disingkirkan, warnanya berubah menjadi hijau transparan—sebuah batu prasasti berwarna hijau giok.

Di permukaannya terukir tulisan yang tidak bisa dipahami.
Bentuknya kecil dan rumit, sulit dibedakan apakah itu huruf atau gambar.
Lalu di sampingnya tergambar sebuah rune aneh.
Seperti laba-laba yang berdiri terbalik. Atau seperti tangan yang sedang menarik sesuatu dengan jari-jari.

"Ini mungkin… sebuah batu prasasti yang diukir dengan sihir kuno."

Iris bergumam pelan.

"Aku pernah mendengarnya di guild. Katanya sihir kuno diukir pada berbagai media, seperti batu prasasti, gulungan yang tidak mengalami degradasi, atau dinding batu. Aku sendiri belum pernah melihat yang asli, jadi… aku tidak bisa yakin sepenuhnya…"
"Luar biasa sekali. Baru hari pertama saja kita sudah menemukan benda seperti ini."
"Jadi ini adalah versi asli dari sihir kuno."
"Tapi menurutku, proses penguraiannya akan memakan waktu cukup lama. Bagian mantranya sangat panjang, dan setiap sihir kuno versi asli punya tata bahasa yang unik. Kita harus menguraikan tulisannya dulu, lalu memastikan efeknya apa—dan sampai benar-benar bisa digunakan, akan butuh waktu yang lama."
"Kira-kira, sihir kuno dengan efek apa ya ini?"
"Kamu ingin tahu?"
"Tentu saja."
"Baiklah. Kalau begitu, aku coba saja."

Aku mengoleskan darah Mystel ke jariku, lalu menggambar mengikuti pola rune yang terukir di batu prasasti itu.

"...Benar juga. My Lord memang tidak perlu menguraikan batu prasasti untuk menggunakan sihirnya."
"...Bisa menggunakan sihir kuno tanpa perlu menguraikannya… itu terlalu hebat."

Sambil mendengar suara mereka berdua, aku mempertajam kesadaranku.
Aku tidak tahu sihir macam apa ini. Lebih baik berhati-hati.
Pelan-pelan, sambil meraba-raba, aku menuangkan kekuatan sihir ke lambang di telapak tanganku.

—Apakah ini sihir serangan? Bukan.
—Sihir pertahanan? Bukan.
—Sihir pergerakan? Juga bukan.
—Apakah ini sihir yang berhubungan dengan ruang—

…Hmm?
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Seolah-olah kekuatan sihirku sedang menggores ruang di depanku──?

"Ini──sihir kuno untuk penyimpanan?"

Aku mengangkat lengan yang tergambar rune itu.
Di udara, muncul sesuatu yang menyerupai sebuah pintu.

Saat aku menekan pintu itu dengan jariku, pintu tersebut terbuka.
Di dalamnya adalah ruang kosong. Ukurannya kira-kira sebesar sebuah gubuk kecil.

"Lu-luar biasa, My Lord. Jadi ada sihir kuno seperti ini!"
"Tapi… kenapa benda seperti ini ada di tempat seperti ini?"
"Mungkin karena sulit digunakan."
"Sulit digunakan?"
"Dilihat dari batu prasastinya, mantranya memakan waktu lama. Ditambah lagi, membuka ruang penyimpanan ini menghabiskan kekuatan sihir dalam jumlah besar."

Aku memperlihatkan telapak tangan kiriku pada mereka berdua.
Lambang yang digambar dengan darah Mystel sudah hampir menghilang.
Ini bukti bahwa sihir ini mengonsumsi kekuatan sihir dalam jumlah besar.

"Kalau dengan kekuatan sihir Yuuki saja seperti ini, orang biasa pasti tidak bisa memakainya."
"Lebih cepat menyewa porter pembawa barang, kan? Makanya mereka mungkin meninggalkannya."

Sihir kuno ini, saat diaktifkan, menciptakan ruang penyimpanan khusus.
Untuk mempertahankannya hanya butuh sedikit kekuatan sihir, tapi untuk membuka dan menutupnya, konsumsi kekuatan sihirnya sangat besar. Kira-kira seperti itu.

"Ngomong-ngomong, kalau pengguna mati saat masih ada barang di dalam ruang itu, apa yang terjadi?"
"Kurasa ruang penyimpanannya akan lenyap, dan barang-barang di dalamnya akan berjatuhan keluar."
"Memang sihir yang sulit menentukan kapan harus digunakan."
"Benar."

Iris mengangguk.

"Barang yang tidak perlu disimpan dalam jangka panjang. Barang yang layak disimpan meski harus dibayar dengan kekuatan sihir. Barang yang tidak ingin dilihat orang lain. Yang bisa dimasukkan mungkin hanya hal-hal seperti itu."
"...Barang yang tidak perlu disimpan lama. Barang yang layak disimpan meski harus dibayar dengan kekuatan sihir, tidak ingin dilihat orang lain, ya."

Kalau dipikir-pikir... Aku punya sesuatu yang pas.
Sesuatu yang hanya perlu dibawa selama penjelajahan dungeon, dan tidak ingin terlalu diperlihatkan pada orang lain.
Sesuatu yang layak disimpan meski harus dibayar dengan kekuatan sihir.
Ya, aku pasti punya benda seperti itu.

"Sepertinya akan mengejutkan Rodelia, tapi mari kita coba sebagai percobaan."

Aku menggambar rune Summon di kedua tanganku.

"Jawablah panggilanku dan datanglah. Pelayanku, [Lord of Noir]!!"

Sebuah lingkaran sihir bercahaya muncul di bawah kakiku.
Sambil tetap merasakan sensasi memegang unit itu di kedua tanganku, aku mengangkat lenganku ke atas.

—Datanglah.

Dari lingkaran sihir di lantai, [Lord of Noir] muncul ke permukaan.
Begitu summon selesai, aku mengganti rune di kedua lenganku menjadi Storage, lalu menutupi [Lord of Noir] dari atas dengan ruang penyimpanan itu.

Pop.

[Lord of Noir] menghilang.
Penyimpanan telah berhasil.

"Kalau dipakai seperti ini, masih masuk akal."
"…Umm, My Lord…"
"…Kenapa barusan kamu memanggil [Lord of Noir]?"
"Karena lapisan bawah dungeon berbahaya, kupikir kita bisa menjelajah dengan [Lord of Noir]."

Lanjutku.

"Kalau disimpan, aku bisa menggunakan [Lord of Noir] kapan saja. Di tempat yang ada orangnya, kita jelajahi secara normal dengan sihir. Di tempat yang tidak ada orang, aku akan memakai [Lord of Noir] dan maju lebih dulu. Dengan begitu, Iris dan Odette juga aman, kan?"
"I-itu benar."
"Cara berpikir seperti itu tidak terpikirkan olehku."
"Bagaimanapun juga, sihir kuno ini nantinya harus diserahkan ke guild. Kita akan menerima hadiahnya... tapi sebelum itu, aku ingin menjelajahi lebih jauh apa yang ada di ruang rahasia ini."

Aku menunjuk ke arah pintu di bagian dalam.

"Mungkin ada rute yang belum ditemukan oleh Guild Sihir. Aku ingin melihat sedikit lebih jauh. Sebagai seorang penyihir."

Mendengar kata-kataku, Iris dan Odette mengangguk.
Dan dengan begitu, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke balik ruang rahasia tersebut.

Regards: Mimin-sama - Takada Kuota



CTTN:

Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~

Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer

Previous Post Next Post
No Comment
Add Comment
comment url
Discussion
Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel ~ Aku Suka Web-Novel
Takada Kuota - Takada Kuota - Takada Kuota
By: Mbah Du-chan