Megan to Dangan Chapter 02
Megan to Dangan o Tsukatte Isekai o Buchinuku!
Chapter 02
dipantaw oleh: ASW
saos: syosetu
◆ ◇ ◈ ◇ ◆
"Inikah dunia lain....Ngomong-ngomong, aku lupa menanyakan nama dunia ini. ya sudahlah."
Ketika Athal datang ke dunia lain dan melihat ke sekeliling, ia mendapati dirinya berada di padang rumput yang luas. Ada tiga hal yang ia minta kepada dewa tentang tempat tujuan transfer, yaitu tempat itu bukan di tengah pertempuran, tempat dimana tidak ada yang melihat tempat tujuan transfer, dan tempat itu tidak jauh dari kota.
Untuk saat ini Athal memutuskan berjalan menuju jalan raya sambil memeriksa senjata dan kemampuannya.
Penampilannya yang dulunya adalah pria dewasa rata-rata telah mengalami perubahan fisik. Tingginya 180 cm, sekitar 10 cm lebih tinggi dari tinggi aslinya. Tubuhnya menjadi kuat secara keseluruhan dan berotot. Rambutnya tetap hitam, tetapi matanya menjadi biru.
"Ketajaman visualku juga telah diperkuat."
Setelah diskusi tentang kemampuan membuat peluru, dia berharap memiliki mata yang tampak bagus, dan harapan itu dikabulkan. Itu sebabnya dia memiliki mata berwarna biru.
Jalan raya terletak tidak jauh dari tempatnya, jadi dengan segera dia dapat mencapainya. Jalan itu telah sering dilalui orang-orang sehingga memiliki penampilan yang baik.
"Nah sekarang, kemana aku harus pergi...."
Dia tidak tahu informasi geografis dari dunia itu, jadi dia tidak bisa menentukan ke arah mana untuk mencari kota, kemudian dia melihat kereta kuda yang menghasilkan suara keras. Ketika dia melihatnya dari dekat sepertinya kereta kuda itu sedang dikejar oleh monster.
"Itu, sepertinya dalam kesulitan......"
Selain itu, jika memfokuskan pada orang itu, akan tampak dia mencambuk kuda dalam sosok yang tidak terhindarkan. Awalnya ada jarak yang tidak memungkinkanmu untuk melihat sampai ke wajahnya. tapi itu cukup jelas dengan mata biru yang diberikan oleh dewa.
"N- Nona, harap bersabar! Entah bagaimanapun caranya kita akan sampai ke kota!"
Lelaki tua itu berteriak pada gadis yang tampakny ada di dalam, tetapi selama itu bisa dilihat dari jendela kereta kuda, tampaknya dia mati-matian terperangkap di dalamnya jadi sepertinya mustahil untuk menjawab.
"Guooooooooo!"
Yang mengejar mereka dari belakang adalah tiga monster berbentuk serigala dan orc yang lebih lambat.
Yang menaikkan suara pada situasi itu adalah kuda. Gerbong kereta yang ditarik kuda itu memiliki beban berat diatasnya. Mereka sedang terburu-buru melarikan diri dari pengejarnya, dan akhirnya tidak dapat bertahan dari belokan, kuda itupun roboh, begitu pula dengan gerbong kereta.
"Uoooooooo!"
Kusir terlempar dengan momentum itu dan kemudian jatuh ke padang rumput.
Gadis di kereta tidak terlempar, tetapi kepalanya terbentur dan pingsan.
"Kalau begitu, ayo periksa kekuatan mereka."
Athal yang bukan karakter orang yang mengabaikan orang yang membutuhkan menyiapkan sniper riffle-nya, lalu mengarahkan tujuannya ke kepala monster.
Saat serigala masuk dalam ruang lingkupnya, ia kemudian menarik pelatuknya.
Peluru ditembakkan menghantam kepala dengan tajam disertai suara tembakan yang kuat. Bersarang di sasaran, kepala serigala diledakkan dan darah serta sejumlah potongan daging berserakan dimana-mana.
"Fuu~h. Tepat sasaran. dengan ini sepertinya bisa."
Sudut mulut Athal terangkat. Sniper riffle yang dibuat dewa sangat memuaskan, dan dia puas bahwa itu familiar dengan tubuhnya.
Monster-monster menyerang kereta kuda lalu melihat serigala itu mati dalam sekejap didepan mereka. Melihat itu, merkejut dan membeku.
"Penuh celah."
Para monster kebingungan, lalu Athal membidik serigala yang berikutnya. Ia berpikir lebih baik untuk memusnahkan monster yang memiliki kemampuan bergerak yang cepat lebih dahulu. Peluru di-reload secara otomatis, sehingga dia dapat langsung melancarkan tembakan berikutnya.
Dua peluru ditembakkan secara berurutan menuju lurus ke arah kepala serigala, dan pada saat berikutnya, kedua kepala itu diledakkan.
"Sisanya hanya kau saja."
Pada titik ini, para orc yang tersisa tampaknya menyadari kalau Athal, yang berada dikejauhan, telah melakukan sesuatu, memelototi Athal dan mendatanginya.
"Menurut kalian, untuk apa aku menyingkirkan serigala terlebih dahulu!"
Tembakan berikutnya diarahkan ke kepala orc, tetapi mereka tidak bodoh, mereka menangkisnya menggunakan kapak yang mereka bawa. Karena adanya jarak, tidak peduli seberapa cepat sesuatu terbang, jari mereka menyiapkan senjata mereka sebagai perisai.
"Gurururu."
Orc yang senang telah berhasil mencegah serangan yang tidak bisa dicegah para serigala mengangkat tawa mereka, tapi itu sudah diasumsikan oleh Athal. Para orc berjalan dengan lambat dan itu masih sangat jauh sehingga orang biasa tidak bisa melihatnya.
"Kalau begitu, ini yang berikutnya!"
Athal kemudian menembakkan tiga tembakan hampir bersamaan.
Satu tembakkan ditujukan pada kapak. Dan secara alami ditangkis oleh kapak disertai dengan suara logam
"Gurarara"
Orc mengangkat suara tawanya menganggap bahwa itu hal bodoh membidik kapak seperti sebelumnya.
"Gaaaaaaaaaaa"
Namun, tawa orc itu kemudian berubah menjadi teriakan.
Tembakan pertama Athal mengenai kapak dan ditangkis, lalu tembakkan kedua ditujukan pada tangan yang memegang kapak, dan yang ketiga diarahkan pada kakinya. Peluru menembus orc dengan tajam dan melenyapkan semangat juangnya. Orc itu tidak bisa melakukan apapun, dan dengan jelas menunjukkan warna ketakutan akan kematian.
"Nah sekarang, selamat tinggal."
Sebuah tembakan dilepaskan bersamaan dengan ucapan itu menebus kepala orc dan membunuhnya dalam sekejap. itu adalah kematian instant, sehingga monster itu tidak bisa mengeluarkan teriakannya.
Ada jarak yang cukup jauh antara tempat dimana Athal berada dengan tempat monster berada, tetapi jarak itu bukan apa-apa baginya. Dia berdiri untuk melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada monster lain yang mengikuti.
"Untuk saat ini, ayo pergi lihat situasinya dahulu."
Athal mengambil senapannya dan menggantungnya di pundaknya lalu mendekati kereta yang roboh.
"Hei, apa baik-baik saja?"
Athal mencoba memanggil dari luar kereta, tetapi tidak ada jawaban.
"Hei..... yang disana. Apa kamu baik-baik saja?"
Athal menemukan bahwa gadis itu pingsan ketika dia melihat masuk ke kereta yang roboh, tidak ada respon darinya. Penampilannya cocok seperti sosok gadis sebelumnya yang mati-matian menahan goncangan dalam kereta. Jika dilihat lebih teliti, dia memiliki rupa yang cantik.
"Dia masih bernafas..... Haruskah aku membawanya keluar dan membaringkannya sementara waktu?"
Athal mengangkatnya dengan lembut, lalu mengeluarkannya dari kereta, mengambil kain dari tas yang merupakan salah satu pemberian dewa dan menggelarnya lalu membaringkan gadis itu diatasnya. Tentu saja setelah ia merapikan rumput di padang rumput, dan bukan menbaringkannya di jalan.
"Sepertinya aku harus memindahkan orang itu juga"
Lalu Athal memindahkan orang yang terlempar dari kereta yang saat ini tergeletak di padang rumput membawanya di punggungnya dan membaringkannya di atas kain disebelah si gadis.
Gadis itu sepertinya tidak mengalami cidera, tetapi pria itu memiliki luka di kepalanya, jadi Athal mengambil kain lalu mencegah pendarahan lebih lanjut pada pria itu.
"Nah sekarang, selanjutnya ini ya."
Athal berdiri di depan gerbong kereta dan mencoba mengangkat(mendirikan)nya. Pada pandangan pertama, gerbong itu tampak besar dan hanya bisa diangkat dengan beberapa orang.
"Tu~ Wa~!"
Namun, kekuatannya telah meningkat berkat modifikasi fisik, dan jika itu hanya gerbong kereta, dia bisa mengangkatnya sendirian.
"Apakah kuda-kudanya...... baik-baik saja. Haruskah aku menepikannya dari jalan."
Kuda yang lepas kendali terlepas saat kereta jatuh, Lalu dia memanggilnya dan memindahkan kereta ke tepi jalan.
◇ ◈ read only at asw-tenan ◈ ◇
◇ ◈ ◇
Sampai keduanya bangun, Athal duduk didekat mereka dan memeriksa kembali kemamuannya.
"Sepertinya poinnya telah meningkat karena kejadian barusan."
Kemampuannya untuk membuat peluru yang diberikan oleh dewa tidak ada batasnya. Untuk setiap monster yang dikalahkannya meningkatkan poin peluru yang dikenal sebagai BP (Bullet Point) dan poin itu bisa digunakan untuk membuat peluru.
Athal telah membunuh tiga monster berbentuk serigala dan satu orc.
"Ini sangat bagus. Aku perlu mengalahkannya untuk mendapatkan pion."
Katena peluru normal memerlukan nol poin, itu tidak akan menjadi masalah dengan poin selama mereka dapat mengalahkan dengan mudah tanpa ada kesulitan seperti sebelumnya.
"Aku senang aku bisa mengonfirmasi kemampuanku dalam pertarungan, tetapi apakah orang-orang ini akan baik-baik saja?"
Menunggu sebentar, Athak khawatir tentang apa yang harus dilakukan pada mereka yang belum bangun.
"......Uu~n."
"Hai."
Yang pertama bangun adalah gadis itu. Dia memiliki rambut pirang dan mengenakan pakaian yang bagus dan tampak mahal. Atahal tidak memahami standar dunia itu, tetapi sosoknya ketika dia bangun, akan masuk dalam klasifikasi kecantikan menurut standar jepang.
"Dimana, ini, sakit!"
Dia bangun, tetapi tampaknya kepalanya terbentur ringan kerika kereta jatuh, Wajahnya terdistorsi dengan rasa sakit dan memindahkan tangannya ke kepalanya.
"Oh, akhirnya kamu bangun?"
Ketika Athal lega bahwa dia sudah bangun, gadis itu bergegas menatap Athal dan berbicara.
"Si- siapa kamu?"
Gadis itu terkejut mendapati orang asing memanggilnya, kemudian bangun dan duduk. Sepertinya hal itu telah membuatnya kebingungan karena serangan sebelumnya.
"Tidak, Aku adalah......"
"G- Gil,! Gil apa kau baik-baik saja?"
Dia panik dan mengangkat suaranya melihat sosok pria yang terbaring disebelahnya.
"Uuu~ N- Nona? Apakah anda baik-baik saja, Nona."
Dia terlempar dari kereta dan cideranya tampaknya lebih parah, tetapi yang pertama diucapkannya adalah loyalitas akan kekhawatiran terhadap keamanan gadis itu dibanding dirinya sendiri.
"Gil! Tidak apa-apa, aku baik-baik saja!"
Athal diam-diam melihat interaksi antara keduanya. Ia berpikir pembicaraan tidak dapat berlanjut bahkan jika dia berbicara sekarang dilihat dari keadaan gadis itu.
"Haa~. Gil! Ada pria yang mencurigakan!"
Sepertinya gadis itu masih kebingungan dan menganggap Athal yang tidak berbicara sepatah katapun sebagai pria yang mencurigakan.
"Mm..... M- mungkinkah, anda yang telah menolong kami?"
Namun, Gil menenangkan gadis itu yang kebingungan sambil mengawasi sekitar, menilai dari keadaan kereta didekatnya dan kain yang digunakan sebagai alas keduanya.
"Yah, Kurang lebih seperti itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku membaringkan kalian disini untuk sementara waktu. Aku meninggalkan mayat monster yang mengejar kalian disana."
Gadis itu akhirnya menyadari kesalahannya sambil membuat wajah pucat setelah mengonfirmasi sisa mayat monster yang mengincar kereta kuda mereka yang ditunjuk oleh Athal.
◆ ◇ ◈ ◇ ◆
>> INDEX <<
<< NEXT >>
Mbah Du-chan (Atmin)Makasih udah mampir disini, jangan lupa buat ninggalin jejak.
Kalo ada kesalahan, koreksi, kritik, atau saran, kasih tau mimin di komentar ya~ Sampai ketemu lagi~
Dukung kami dengan memberikan beberapa suntikan BANSOS melalui Trakteer
